Pages

Showing posts with label Tugas Semester 7. Show all posts
Showing posts with label Tugas Semester 7. Show all posts

Tuesday, December 28, 2010

Tanah Ultisol

Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia. Sebaran terluas terdapat di Kalimantan (21.938.000 ha), diikuti di Sumatera (9.469.000 ha), Maluku dan Papua (8.859.000 ha), Sulawesi (4.303.000 ha), Jawa (1.172.000 ha), dan Nusa Tenggara (53.000 ha). Tanah ini dapat dijumpai pada berbagai relief, mulai dari datar hingga bergunung. Ultisol dapat berkembang dari berbagai bahan induk, dari yang bersifat masam hingga basa. Namun sebagian besar bahan induk tanah ini adalah batuan sedimen masam. Di antara grup Ultisol, Hapludults mempunyai sebaran terluas. Hal ini karena persyaratan klasifikasinya hanya didasarkan pada nilai kejenuhan basa yaitu < 35% dan adanya horizon argilik, tanpa ada syarat tambahan lainnya.
Ultisol dicirikan oleh adanya akumulasi liat pada horizon bawah permukaan sehingga mengurangi daya resap air dan meningkatkan aliran permukaan dan erosi tanah. Erosi merupakan salah satu kendala fisik pada tanah Ultisol dan sangat merugikan karena dapat mengurangi kesuburan tanah. Hal ini karena kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kandungan bahan organik pada lapisan atas. Bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin bahan organik dan hara. Tanah Ultisol mempunyai tingkat perkembangan yang cukup lanjut, dicirikan oleh penampang tanah yang dalam, kenaikan fraksi liat seiring dengan kedalaman tanah, reaksi tanah masam, dan kejenuhan basa rendah. Pada umumnya tanah ini mempunyai potensi keracunan Al dan miskin kandungan bahan organik. Tanah ini juga miskin kandungan hara terutama P dan kation-kation dapat ditukar seperti Ca, Mg, Na, dan K, kadar Al tinggi, kapasitas tukar kation rendah, dan peka terhadap erosi (Sri dan Mulyadi 1993).
Di Indonesia, Ultisol umumnya belum tertangani dengan baik. Dalam skala besar, tanah ini telah dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit, karet dan hutan tanaman industri, tetapi pada skala petani kendala ekonomi merupakan salah satu penyebab tidak terkelolanya tanah ini dengan baik.
2.1.1. Ciri Morfologi
Pada umumnya Ultisol berwarna kuning kecoklatan hingga merah. Pada klasifikasi lama menurut Soepraptohardjo (1961), Ultisol diklasifikasikan sebagai Podsolik Merah Kuning (PMK). Warna tanah pada horizon argilik sangat bervariasi dengan hue dari 10YR hingga 10R, nilai 3−6 dan kroma 4−8.
Warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain bahan organik yang menyebabkan warna gelap atau hitam, kandungan mineral primer fraksi ringan seperti kuarsa dan plagioklas yang memberikan warna putih keabuan, serta oksida besi seperti goethit dan hematit yang memberikan warna kecoklatan hingga merah. Makin coklat warna tanah umumnya makin tinggi kandungan goethit, dan makin merah warna tanah makin tinggi kandungan hematit (Schwertmann dan Taylor 1989).
Kandungan hara pada tanah Ultisol umumnya rendah karena pencucian basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena proses dekomposisi berjalan cepat dan sebagian terbawa erosi. Pada tanah Ultisol yang mempunyai horizon kandik, kesuburan alaminya hanya bergantung pada bahan organik di lapisan atas. Dominasi kaolinit pada tanah ini tidak memberi kontribusi pada kapasitas tukar kation tanah, sehingga kapasitas tukar kation hanya bergantung pada kandungan bahan organik dan fraksi liat. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas tanah Ultisol dapat dilakukan melalui perbaikan tanah (ameliorasi), pemupukan, dan pemberian bahan organik.

Friday, November 19, 2010

Spesies Allopatrik



Perbedaan proses spesiasi dapat ditentukan pada langkah pertama atau bagaimana suatu populasi menjadi terisolasi secara genetik. Karena itulah proses spesiasi geografik diawali dengan adanya geographic barrier atau pembatas geografis seperti gunung atau samudra. Pembatas geografis tersebut menyebabkan terganggunya gen flow antara dua populasi yang sama sehingga terjadi isolasi genetik antara populasi yang satu dengan yang lain (Ridley, 1991). Isolasi genetik tersebut menyebabkan bertambahnya perbedaan genetik (Genetic divergence) antara dua populasi secara bertahap sehingga tercipta dua populasi yang berbeda secara genetik dimana populasi yang terbentuk adalah populasi yang mampu beradaptasi pada tekanan lingkungan ataupun mutasi genetik.
Selanjutnya masing-masing populasi tersebut akan terisolasi secara reproduktif (reproductive isolation) yang artinya adalah spesies dari  kedua populasi tersebut tidak dapat melakukan interbreeding untuk mendapatkan keturunan sekalipun suatu waktu pembatas geografis tersebut hilang dan kedua populasi bertemu. Sehingga terbentuklah spesies karena adanya pembatas geografis atau spesiasi geografik. Spesies yang terbentuk akibat barrier geografis tersebut dinamakan spesies allopatrik.
 Misalnya populasi tupai antelope di Grand Canyon. Tupai antelope tersebut terbagi menjadi dua spesies yang hidup pada sisi tebing yang berlawanan. Pada sisi selatan hidup tupai Harris (Ammospermophilus harris), sedangkan pada sisi utara hidup tupai antelope berekor putih (Ammospermophilus leucurus). Meskipun suatu saat penghalang diantara kedua jenis tupai tersebut hilang, keduanya tidak dapat melakukan interbreeding atau terisolasi secara reproduktif karena memiliki perbedaan genetik (Campbell, 2002).

Wednesday, November 17, 2010

Variasi Genetik Dalam Populasi

Within – Population Variation, Contohnya :
• Sexual dimorphisme; sehingga menyebabkan adanya perbedaan jenis kelamin pada suatu populasi baik populasi hewan, tumbuhan, ataupun manusia (Sidharta, 1995).
• Individu jantan dan betina pada populasi kupu-kupu ‘semanggi’ memiliki variasi warna. Kupu-kupu jantan selalu berwarna kuning, sedangkan kupu-kupu betina dapat berwarna kuning atau putih.
• Perbedaan golongan darah seseorang. Misalnya : 1000 orang mahasiswa Biologi ITS diperiksa golongan darahnya menurut sisten ABO dan didapatkan hasil golongan A 320 orang, B 150 orang, AB 40 orang, dan O 490 orang
(Suryo, 2005).
• Limpets memiliki tekstur cangkang yang berbeda – beda sesuai ukurannya dimana semakin besar ukuran Limpets senakin kasar tekstur cangkangnya.
• Adanya variasi warna pada populasi Sand dollars (coklat tua, coklat muda, putih, atau abu-abu).
• Sekelompok orang di suatu perkampungan memiliki variasi usia, mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa.
• Variasi mating (cara kawin) pada spesies-spesies jantan Ungulates. Misalnya : 1) Jantan pada populasi Ovis canadensis memiliki taktik/cara mating dengan merawat betinanya, memberi batas teritori, atau mengejar individu betina, 2) strategi mating pada populasi Damaliscus lunatus adalah mengikuti kemanapun perginya betina, membentuk wilayah teritori, atau memberikan tanda artifisial di wilayahnya (Isvaran, 2005).

Between – Population Variation, Contohnya :
• Adanya variasi proses penyerbukan pada populasi Plantago maritima di Amerika dengan populasi di Eropa dimana Plantago maritima di wilayah Amerika bersifat self - fertile (menyerbuk sendiri), sedangkan populasi Plantago maritima di Eropa bersifat self – sterile.
• Populasi Microctonus aethiopoides di Eropa bersifat parasit bagi Sitona lepidus, sedangkan di New Zealand M.aethiopoides tidak berpengaruh bagi eksisnya Sitona lepidus. Hal tersebut dikarenakan adanya variasi allozyme antara populasi di Eropa dan New Zealand (Iline, 2003).
• Ukuran tubuh maksimum komodo di pulau Komodo dan Rinca 15% lebih besar dibandingkan ukuran tubuh maksimum komodo di pulau Gili Montang dan Nusa Kode dimana variasi tersebut dipengaruhi oleh sumber daya alam di masing-masing pulau (Jessop, 2005).
• Pada umumnya tanaman Pterocarpus indicus di dataran tinggi (Yogyakarta) memiliki warna daun yang berbeda dengan Pterocarpus indicus di dataran rendah (Jakarta). Daun Pterocarpus indicus di dataran tinggi berwarna hijau tua dan cerah, sedangkan di dataran rendah berwarna hijau, hijau kekuningan, atau kuning. Selain karena faktor lingkungan yang berbeda, variasi warna daun di kedua populasi tersebut juga disebabkan adanya perbedaan gen pembentuk klorofil. Y3 merupakan gen dominan yang menyebabkan munculnya zat hijau daun, sedangkan gen y3 merupakan gen resesif terhadap penampakan zat hijau daun. Tanaman yang kekurangan klorofil (daunnya berwarna hijau kekuningan atau kuning) dijumpai pada tanaman yang mempunyai sifat homozigot resesif /y3y3 (Welsh, 1991).

Daftar Pustaka

  • Iline, I., dan Philips, C. 2003. Allozyme Variation Between Europen and New Zealand population of Microctonus aethiopoides. New Zealand Plant Protection. 56 : 133 – 137.
  • Isvaran, Kavita. 2005. Variation in Male Mating Behaviour Within Ungulate Populations : Patterns and Processes. Current Science. 89 (7).
  • Jessop, S., dkk. 2005. Ukuran Tubuh Maksimum Antar Populasi – Terbatas – Pulau Biawak Komodo dan Keterikatannya Dengan Kepadatan Mangsa Besar. Taman Nasional Komodo, Zoological Society of San Diego, The Nature Conservancy.
  • Suryo. 2005. Genetika Strata 1. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
  • Welsh, James., dan Mogea, Johanis. 1991. Dasar-Dasar Genetika Dan Pemuliaan Tanaman. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Saturday, November 13, 2010

Mengenal Resin Dan Lateks

Definisi Umum Resin
Resin adalah cairan getah lengket yang dipanen dari beberapa jenis pohon hutan. Spesimen resin yang ditemukan di situs-situs prasejarah merupakan bukti bahwa kegiatan pengumpulan hasil hutan sudah sejak lama dilakukan. Hutan-hutan alam Indonesia menghasilkan berbagai jenis resin. Terpentin (resin Pinus) dan kopal (resin Agathis) pernah menjadi resin bernilai ekonomi yang diperdagangkan dari Indonesia sebelum Perang Dunia II. Pada awalnya masyarakat mengetahui bahwa resin dihasilkan oleh tanaman gymnospermae, tetapi saat ini banyak tanaman angiospermae yang dapat digunakan sebagai penghasil resin. Contohnya adalah jagung (Zea mays) dan gaharu (Aquilaria malaccensis).
Richana (2007) menyebutkan bahwa tongkol jagung banyak sekali mengandung senyawa xylan yang merupakan bahan baku industry furfural dan gula. Sebagai bahan baku industri, xilan dapat dimanfaatkan sebagai campuran bahan pembuatan nilon dan resin. Hidrolisis xilan menghasilkan furfural yang dapat digunakan sebagai bahan pelarut industri minyak bumi, pelarut reaktif untuk resin fenol, disinfektan serta sebagai bahan awal untuk memproduksi berbagai bahan kimia dan polimer lainnya (Mansilla et al., 1998). Sedangkan pada tanaman gaharu resin berupa fitoaleksin yang berwarna coklat dengan aroma yang khas sehingga resin dari tanaman ini lebih sering digunakan sebagai bahan baku minyak wangi.
Pada umumnya resin digunakan sebagai obat tradisional, astringent dan detergen yang diberikan pada penderita diare dan disentri. Resin juga digunakan sebagai salep untuk penyakit kulit dan menyembuhkan gangguan pendengaran, kerusakan gigi, sakit mata, bisul dan luka (Appanah dan Turnbull 1998).

Damar
Damar adalah istilah yang umum digunakan di Indonesia untuk menamakan resin dari pohon-pohon yang termasuk suku Dipterocarpaceae dan beberapa suku pohon hutan lainnya. Sekitar 115 spesies, yang termasuk anggota (tujuh dari sepuluh) marga Dipterocarpacea menghasilkan damar. Pohon-pohon tersebut tumbuh dominan di hutan dataran rendah Asia Tenggara, karena itu damar merupakan jenis resin yang lazim dikenal di Indonesia bagian barat. Biasanya, damar dianggap sebagai resin yang bermutu rendah dibanding kopal atau terpentin (Abang, 2009).
Ada dua macam damar yang dikenal umum, dengan kualitas yang jauh berbeda. Pertama adalah damar batu, yaitu damar bermutu rendah berwarna coklat kehitaman yang keluar dengan sendirinya dari pohon yang terluka. Gumpalan-gumpalan besar yang jatuh dari kulit pohon dapat dikumpulkan dengan menggali tanah di sekeliling pohon. Di seputar pohon-pohon penghasil yang tua biasanya terdapat banyak sekali damar batu. Jenis kedua adalah damar mata kucing; yaitu damar yang bening atau kekuningan yang bermutu tinggi, sebanding dengan kopal, yang dipanen dengan cara melukai kulit pohon (Simpson, 2001). Sekitar 40 spesies dari genus Shorea
dan Hopea menghasilkan damar mata kucing, di antaranya yang terbaik adalah Shorea javanica dan Hopea dryobalanoides.
Sejak tiga ribu tahun yang lalu, damar telah memasuki jalur perdagangan jarak pendek di Asia Tenggara. Damar mungkin juga sudah menjadi produk dagang jarak jauh pertama yang berkembang antara Asia Tenggara dengan Cina di antara abad ke III dan ke V. Pada abad ke X damar kembali muncul dalam daftar produk-produk yang dijual ke Cina dari Asia Tenggara. Sedangkan ekspor damar ke Eropa dimulai pada tahun 1829 dan ke Amerika pada tahun 1832. Di daerah penghasilnya, damar digunakan sebagai bahan untuk penerangan dan mendempul perahu. Secara tradisional, damar juga diperdagangkan sebagai dupa, bahan pewarna, perekat dan obat. Pada pertengahan abad XIX lalu, seiring dengan berkembangnya industri pernis dan cat di Eropa dan Amerika yang kemudian disusul dengan Jepang dan Hong Kong, damar mulai memperoleh nilai ekonomi baru. Tetapi sejak tahun 1940-an, damar mendapat saingan berat dari resin sintetik hasil pengolahan minyak bumi (petrokimia) yang lebih disukai kalangan industri.
Dewasa ini Indonesia merupakan satu-satunya negara penghasil damar di dunia. Sasaran utama penjualan damar adalah pabrik-pabrik cat bermutu rendah di dalam negeri, sedangkan damar berkualitas tinggi diekspor terutama ke Singapura. Di Singapura, damar disortir dan diproses dan kemudian diekspor kembali sebagai dupa atau bahan baku untuk pabrik-pabrik cat di negara-negara industri. Pada tahun 1984 duapertiga dari produksi damar diserap oleh pasar lokal yakni pabrik-pabrik cat (60%), pembuatan dupa (24 %), dan industri batik tulis (16%). Diramalkan prospek pasar-pasar tersebut tingkatnya sedang sampai rendah terutama karena masuknya resin-resin petrokimia ke pabrik-pabrik cat lokal, dan juga karena tergesernya batik tulis oleh batik industri yang tidak membutuhkan damar. Pasar ekspor, yang menyerap sepertiga volume produksi, menuntut kualitas yang tinggi tetapi menawarkan prospek yang lebih baik. Secara teratur volume ekspor menunjukkan peningkatan, dari 1972 sampai 1983 tercatat kenaikan 250-400 ton per tahun.
Secara tradisional, damar digunakan sebagai bahan bakar obor penerang, penambal perahu, dan kerajinan tangan. Resin Dipterocarpaceae juga digunakan sebagai campuran resin aromatik yang berupa styrax benzoin (Stiracaceae) yang digunakan sebagai kemenyan dan obat-obatan. Damar secara luas digunakan sebagai kemenyan untuk upacara keagamaan dan sebagai desinfektan fumigant. Sejumlah besar damar juga dibutuhkan pada “Samagri” untuk kremasi jenazah. Damar dapat digunakan sebagai lilin pengeras pada industri semir, kertas karbon, pita mesin ketik, industri vernis, dan bantalan objek mikroskopik. Damar juga digunakan sebagai pelapis dinding dan atap, perekat kayu lapis dan asbes (Appanah dan Turnbull 1998).
Lebih jauh, damar juga digunakan pada berbagai kegiatan teknis seperti pembuatan cat, celupan batik, lilin pelayaran, tinta cetak, linoleum dan kosmetik. Triterpenes yang diisolasi dari damar telah digunakan sebagai media antivirus pada budidaya in vitro, untuk mengatasi penyakit Herpes simplex virus tipe I dan II (Poehland et al., 1996).

Asal-Asul Lateks
Pada tahun 1493 Michele de Cuneo melakukan pelayaran ekspedisi ke Benua Amerika yang dahulu dikenal sebagai “Benua Baru”. Dalam perjalanan ini ditemukan sejenis pohon yang mengandung getah. Pohon - pohon itu hidup secara liar di hutan pedalaman Amerika. Penduduk Amerika mengambil getah dari tanaman tersebut dengan cara menebangnya. Getah yang didapat kemudian dijadikan bola yang dapat dipantul - pantulkan. Bola ini disukai penduduk asli sebagai permainan. Penduduk Indian Amerika juga juga membuat alas kaki dan tempat air dari getah tersebut.
Tanaman yang dilukai batangnya ini diperkenalkan sebagai tanaman Hevea. Hasil laporan Ekspedisi Peru ditulis dalam buku oleh Frenhneau tahun 1749 dengan menyebut nama tersebut. Freshneau juga menyertakan gambar dari tanamana tersebut. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1751, De La Condomine membuat usulan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai tanamana Hevea ini. Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar, tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 meter. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi diatas (Tjitrosoepomo, 2005). Di beberapa kebun karet ada beberapa kecondongan arah tumbuh tanamanya agak miring kearah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks.

Perkembangan Tanaman Karet
Pengenalan pohon Hevea membuka langkah awal yang sangat pesat ke arah zaman penggunaan karet untuk berbagai keperluan. Sejak pertama kali ditemukan sebagai tanaman yang tumbuh secara liar sampai dijadikan tanaman perkebunan secara besar-besaran, karet memiliki sejarah yang cukup panjang. Apalagi setelah ditemukan beberapa cara pengolahan dan pembuatan barang dari bahan baku karet, maka ikut berkembang pula industri yang mengolah getah karet menjadi bahan berguna untuk kehidupan manusia.
Pemungutan hasil tanaman karet disebut penyadapan karet. Penyadapan merupakan salah satu kegiatan pokok dari pengusahaan tanaman karet. Tujuan dari penyadapan karet ini adalah membuka pembuluh lateks pada kulit pohon agar lateks cepat mengalir. Kecepatan aliran lateks akan berkurang apabila takaran cairan lateks pada kulit berkurang (McMahon, 2007).
Kulit karet dengan ketinggian 260 cm dari permukaan tanah merupakan bidang sadap petani karet untuk memperoleh pendapatan selama kurun waktu sekitar 30 tahun. Oleh sebab itu penyadapan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merisak kulit tersebut. Jika terjadi kesalahan dalam penyadapan, maka produksi karet akan berkurang. Untuk memperoleh hasil sadap yang baik, penyadapan harus mengikuti aturan tertentu agar diperoleh hasil yang tinggi, menguntungkan, serta berkesinambungan dengan tetap memperhatiakan faktor kesehatan tanaman (Setyamidjaja, 1993).
Lateks ialah cairan berwarna putih yang keluar dari pembuluh pohon karet bila dilukai. Pembuluh karet adalah suatu sel raksasa yang mempunyai banyak inti sel sehingga. Lateks ini juga disebut protoplasma. Lateks juga didefenisikan sebagai sistem fosfolipida yang terdispersi dalam serum. Lateks adalah disperse stabil (emulsi) polimer mikropartikel dalam media air. Lateks ditemukan di alam berupa cairan seperti susu dan terdapat pada 10% tumbuhan angiospermae. Lateks merupakan emulsi kompleks yang terdiri dari protein, alkaloid, karbohidrat, tannin, resin yang menggumpal karena terpapar udara (Agrawal, 2009). Bagi tumbuhan lateks berfungsi sebagai antimikroba, hama, ataupun penyakit (Agrawal, 2009). Beberapa penyakit yang kerap kali merusak tanaman karet adalah sebagai berikut :
A. Jamur Akar Putih (Rigidoporus lignosus)
Serangan jamur menyebabkan akar menjadi busuk dan apabila perakaran dibuka maka pada permukaan akar terdapat semacam benang-benang berwarna putih kekuningan dan pipih menyerupai akar rambut yang menempel kuat dan sulit dilepas.
B. Penyakit Bidang Sadap
1. Mouldy Rot yang disebabkan oleh jamur Ceratocystis fimbriata. Gejala serangan penyakit ini meliputi :
• Mula-mula tampak selaput tipis berwarna putih pada bidang sadap didekat alur sadap. Selaput ini berkembang membentuk lapisan seperti beludru berwarna kelabu sejajar dengan alur sadap.
• Apabila lapisan dikerok, tampak bintik-bintik berwarna coklat kehitaman.
• Serangan bisa meluas sampai ke kambium dan bagian kayu.
• Pada serangan berat bagian yang sakit membusuk berwarna hitam kecokelatan sehingga sangat mengganggu pemulihan kulit.
• Bekas serangan membentuk cekungan berwarna hitam seperti melilit sejajar alur sadap. Bekas bidang sadap bergelombang sehingga menyulitkan penyadapan berikutnya atau tidak bisa lagi di sadap.
2. Kering Alur Sadap (KAS) yang disebabkan oleh ketidakseimbangan fisiologis dan penyadapan yang berlebihan. Gejala serangan yang terlihat meliputi :
• Tanaman tampak sehat dan pertumbuhan tajuk lebih baik dibandingkan tanaman normal. Tidak keluar latek di sebagian alur sadap. Beberapa minggu kemudian keseluruhan alur sadap ini kering dan tidak me-ngeluarkan lateks.
• Lateks menjadi encer dan Kadar Karet Kering (K3) berkurang.
• Kekeringan menjalar sampai ke kaki gajah baru ke panel sebelahnya.
• Bagian yang kering akan berubah warnanya menjadi cokelat dan kadang-kadang terbentuk gum (blendok).
• Pada gejala lanjut seluruh panel / kulit bidang sadap kering dan pecah-pecah hingga mengelupas.
3. Jamur Upas
Penyebabnya adalah jamur Corticium salmonicolor. Gejala serangan penyakit ini adalah:
• Stadium sarang laba-laba. Pada permukaan kulit bagian pangkal atau atas percabangan tampak benang putih seperti sutera mirip sarang laba-laba.
• Stadium bongkol. Adanya bintil-bintil putih pada permukaan jaring laba-laba.
• Stadium kortisium. Jamur membentuk selimut yaitu kumpulan benangbenang jamur berwarna merah muda. Jamur telah masuk ke jaringan kayu.
• Stadium nekator. Jamur membentuk lapisan tebal berwarna hitam yang terdiri dari jaringan kulit yang membusuk dan kumpulan tetesan lateks yang berwarna coklat kehitaman meleleh di permukaan bagian terserang. Cabang atau ranting yang terserang akan membusuk dan mati serta mudah patah.
(Ingham, 1972).


Daftar Pustaka
  • Abang. 2009. Contoh Agroforesty. http://abang.wordpress.com. Diakses pada tanggal 10 November 2010 Pukul 19.45 WIB.
  • Agrawal AA, Konno K. 2009. Latex: A Model for Understanding Mechanisms, Ecology, and Evolution of Plant Defense Against Herbivory. Annu. Rev. Ecol. Evol. Syst. 40:311–31.
  • Appanah, S dan Turn bull, J.M. 1998. A Review of Dipterocarps: Taxonomy, Ecology, and Silviculture. Center for International Forest Research. Bogor.
  • Ingham, John. 1972. Phytoalexin And Other Natural Products as Factors in Plant Disease Resistance. The Botanical Review 38 (3): 343-424.
  • Mansilla, H.D., J. Baeza, S. Urzua, G. Maturana, J. Villasenor and N. Duran. 1998. Acid-Catalyzed Hydrolysis of Rice Hull: Evaluation of Furfural Production. J.Bioresource Technol. 66:189-193
  • McMahon, Margaret, et. all. 2007. Hartmann’s Plant Science-Growth, Development, and Utilization of Cultivated Plants. Pearson Prentice Hall : New Jersey.
  • Poehland, B.L., Carta, B. K., Francis, T. A., Hyland, L.J., Allaudeen, H.S. and Troupe, N. 1987. In-Vitro Antiviral Activity of Dammar Resin Triterpenoids. Jurnal of Natural Product 50: 706-713
  • Richana, Nur., dkk. 2007. Ekstraksi Xylan Dari Tongkol Jagung. Pascapanen. 4 (1): 38-43
  • Setyamidjaja, Djoehana. 1993. Budidaya dan Pengolahan Karet. Cetakan I. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.
  • Simpson, B.B and Molly, C.O.2001. Economic Botany Third edition, Plants in our World. McGraw-Hill International: Boston.
  • Tjitrosoepomo,Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan.UGM Press: Yogyakarta.

Friday, October 29, 2010

Ancaman Pencemaran Terhadap Eksistensi Ekosistem Terumbu Karang (Coral Reef)


Terumbu karang ditemukan mulai dari perairan es di Artik dan Antartika, hingga perairan tropis yang jernih. Namun, terumbu karang dengan dinding megahnya dan rangka batu kapur yang sangat besar hanya ditemukan di sebagian kecil perairan sekitar khatulistiwa. Dalam jalur tropis ini, faktor biologi, kimiawi dan iklim mencapai keseimbangan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup karang pembentuk terumbu. Karang pembentuk terumbu tumbuh dengan subur dalam keseimbangan ini, menciptakan suatu ekosistem yang paling produktif dan beragam di dunia. Asia Tenggara merupakan jantung keanekaragaman yang luar biasa ini, dengan memiliki lebih dari 77% dari sekitar 800 jenis karang pembentuk terumbu yang telah dideskripsikan oleh para peneliti. Indonesia, sebagai salah satu negara di Asia Tenggara, merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah perairan laut mencapai dua pertiga dari luas wilayah daratan dan memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika perairan Indonesia dinilai sebagai salah satu perairan yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (Burke, 2002).
Manusia telah hidup berdampingan dengan ekosistem terumbu karang di Asia Tenggara selama ribuan tahun. Dengan lebih dari 350 juta orang yang tinggal dalam wilayah 0 - 50 km dari pantai, terumbu karang menjadi penting tidak hanya dalam budaya masyarakat lokal, tetapi juga penting sekali untuk kesehatan ekonomi negara-negara tersebut. Perikanan karang khususnya, merupakan sumber yang vital untuk makanan dan pekerjaan. Perikanan yang ditujukan untuk perdagangan ikan konsumsi hidup, perdagangan ikan hias, dan nafkah hidup masyarakat lokal menghasilkan milyaran dolar AS setiap tahunnya. Total keuntungan bersih perikanan karang per tahun di seluruh Asia Tenggara diperkirakan 2,4 milyar dolar AS per tahun (Burke, 2002).
Sebagai tambahan di bidang perikanan, terumbu karang memberikan banyak nilai jasa lainnya yang luar biasa. Keindahannya menarik jutaan wisatawan dari seluruh dunia setiap tahunnya. Karang sendiri mempunyai nilai yang belum dapat diungkapkan sebagai bahan biokimia untuk farmasi dan produk-produk lainnya. Terumbu karang juga mendukung  pertumbuhan mangrove dan lamun, menyediakan habitat  tempat berlindung yang sangat penting untuk keragaman jenis biota laut dan mencegah terjadinya erosi pantai.  Burke (2002) mengemukakan bahwa meskipun nilainya sangat tinggi, terumbu karang di Asia Tenggara dan di seluruh permukaan bumi menghadapi ancaman dari aktivitas manusia dengan tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meledaknya populasi penduduk 50 tahun terakhir ini mendorong munculnya tekanan-tekanan dan peningkatan kebutuhan yang sangat tinggi akan sumberdaya yang berasal dari  darat maupun laut. Tekanan-tekanan ini mengancam terumbu karang dan akan berdampak nyata terhadap perekonomian bila terumbu karang tersebut hilang.  
Eksploitasi sumberdaya alam di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan kelestariannya, berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan hidup di kawasan terumbu karang. Menurut hasil penelitian Pusat Pengembangan Oseanologi (P2O) LIPI yang dilakukan pada tahun 2000, kondisi terumbu karang Indonesia 41,78% dalam keadaan rusak, 28,30 % dalam keadaan sedang, 23,72 % dalam keadaan baik, dan 6,20 % dalam keadaan sangat baik. Hal ini menunjukkan telah terjadi tekanan yang cukup besar terhadap keberadaan terumbu karang di indonesia. Ikawati (2001) menyebutkan bahwa kerusakan terumbu karang yang diakibatkan oleh manusia (antropogenik) merupakan masalah utama pada saat ini. Kegiatan manusia yang berakibat merusak ekosistem terumbu karang dapat dikelompokkan menjadi beberapa kegiatan dimana salah satunya adalah pencemaran (Sudiono, 2008).
Pencemaran
Indonesia telah berkembang ke arah tercapainya tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi, sehingga sektor industri dapat menjadi lebih efektif sebagai sarana utama untuk mendorong pembangunan ekonomi, meningkatkan kemampuan teknologi dan mengoptimumkan pemanfaatan sumberdaya ekonomi. Di samping itu, hal tersebut juga ditujukan pada peningkatan persaingan industri dan kemampuan untuk menghasilkan produk yang bermutu  tinggi, yang mampu menembus pasar internasional, menggalakkan pertumbuhan industri kecil dan menengah, termasuk industri pedesaan; dan memperluas pembagian industri daerah, terutama di Indonesia Timur, sehingga pusat pertumbuhan ekonomi dapat dikembangkan di seluruh daerah sesuai potensinya (Anonim, 2000). 
 Pembangunan pertambangan ditujukan ke arah peningkatan produksi dan diversifikasi produk pertambangan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan sumberdaya energi primer, peningkatan ekspor, dan terpenuhinya kebutuhan masyarakat lainnya. Produksi tahunan minyak bumi (minyak mentah dan kondensat) adalah sekitar 600 juta barel, dengan ekspor sekitar 300 juta. Ekspor minyak murni adalah sekitar 80 juta barel per tahun. Produksi tahunan gas alam adalah sekitar 3.000 milyar kaki kubik dengan konsumsi lokal sebesar sekitar 2.800 milyar kaki kubik. Produksi Gas Alam Cair  (LNG)  adalah sekitar 1,4 milyar MMBTL, sebagian besar diekspor. Produksi  LPG adalah sekitar 2,9 juta ton dan sekitar 2,6 juta diekspor (Anonim, 2000).
Sayangnya kemajuan industri dan teknologi tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga mampu menimbulkan efek negatif khususnya pada lingkungan. Efek negatif yang kerap kali menurunkan kuantitas dan kualitas lingkungan adalah pencemaran dimana hal tersebut berpengaruh pula pada eksistensi ekosistem terumbu karang.  Pencemaran laut karena minyak bumi tumpah ke laut dapat terjadi karena pemindahan minyak bumi dari kapal ke kapal, dari kapal ke pelabuhan atau sebaliknya, dari penyulingan minyak, dan dari pencucian kapal tanker (Ikawati, 2001).
Minyak yang tertumpah di laut akan mengalami absorbsi, pertukaran ion, penguapan dan pengendapan. Selain itu, tumpahan minyak akan tersebar di permukaan air laut. Ikawati (2001) mengemukakan bahwa sebagian tumpahan minyak di permukaan akan terseret ke pantai saat ada arus angin sedangkan yang melekat pada sedimen akan tenggelam ke dasar laut dan mengenai karang. Tumpahan tersebut dapat merusak atau menyebabkan kematian karang. Sebenarnya tumpahan minyak ini tidak dapat melekat begitu saja pada karang, tetapi tergantung efektifitas reaksi pembersihan karang (jenis karang) dan jenis pencemar.
Sebagai contoh, pada sebuah percobaan di laboratorium, Thompson dan Bright (1977) membandingkan kemampuan tiga spesies karang (Diploria strigosa, Montastrea annularis, M.cavernosa) dengan memindahkan empat tipe sedimen dari permukaan mereka. Empat tipe sedimen yang digunakan pada perlakuan tersebut adalah lumpur pengeboran, barite, bentonite, dan CaCO3. Percobaan dilakukan dengan menambahkan 25 ml adukan sedimen pada permukaan karang. Meskipun hasil mengindikasikan adanya tingkatan variasi pada pembersihan karang, tetapi semua karang yang diujikan dapat membersihkan barite, bentonite dan CaCO3 secara efektif dan tidak satupun spesies dapat membersihkan lumpur pengeboran secara keseluruhan (Nganro, 2009).
Bahan pencemar lain yang dikenal berpengaruh terhadap kehidupan terumbu karang adalah tailing. Limbah tailing berasal dari batu-batuan dalam tanah yang telah dihancurkan hingga menyerupai bubur kental. Proses itu dikenal dengan sebutan proses penggerusan. Batuan yang mengandung mineral seperti emas, perak, tembaga dan lainnya, diangkut dari lokasi galian menuju tempat pengolahan yang disebut processing plant. Di tempat itu proses penggerusan dilakukan. Setelah bebatuan hancur menyerupai bubur biasanya dimasukkan bahan kimia tertentu seperti sianida atau merkuri, agar mineral yang dicari mudah terpisah. Mineral yang berhasil diperoleh biasanya berkisar antara 2% sampai 5% dari total batuan yang dihancurkan. Sisanya sekitar 95% sampai 98% menjadi tailing, dan dibuang ke tempat pembuangan (Sembiring, 2010).
Logam-logam yang berada dalam tailing sebagian adalah logam berat yang masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Sembiring (2010) mengemukakan bahwa tailing menyebar ke daerah yang lebih dangkal dan produktif secara biologis sehingga mendatangkan lebih banyak masalah dari yang diperkirakan yaitu mengusir spesies ikan yang berpindah-pindah, menyebabkan kerusakan permanen di dasar laut, memusnahkan spesies asli, menghilangkan organisme langka dan mengurangi keanekaragaman organisme termasuk terumbu karang.
Limbah merupakan polutan utama yang berasal dari anak sungai. Limbah pencemar tersebut dapat mengandung pestisida, herbisida, klhorin, logam berat dan limbah organik lainnya. Materi-materi tersebut dapat menyebabkan tingginya nilai BOD (Biological Oxygen Demand) dan meracuni ekosistem pesisir termasuk terumbu karang (Nganro, 2009). Melalui penelitiannya, Yudha (2007) mengemukakan bahwa kandungan fosfat, sulfida, dan logam berat seperti Pb, Hg, Cu dan Cd di perairan laut Bandar Lampung, yang dekat dengan pabrik-pabrik dan industri rumah tangga, terdapat dalam jumlah yang melebihi baku mutu yang ditetapkan untuk kehidupan biota laut. Hal tersebut semakin menegaskan bahwa kegiatan manusia merupakan penyebab terbesar kerusakan terumbu karang. 
Dampak Pencemaran Terhadap Ekosistem Terumbu Karang

Wilkinson  (1993)  menduga  bahwa   sekitar  10 %  dari  terumbu  karang  dunia  telah hancur  dan  saat  ini  kondisi  terumbu karang dunia dapat diklasifikasikan  dalam  3 (tiga) katagori :
  1. Kritis (critical). Sekitar 30 % dari terumbu karang berada pada tingkat kritis dan akan  hilang  dalam  waktu  10 -20  tahun  kemudian jika tekanan antropogenik tidak berkurang atau dihilangkan
  2. Terancam  (threatened).    Sekitar  30%  te rumbu  karang  dikategorikan terancam dan akan tampak pada 20-40 tahun,  jika populasi dan tekanan yang ditimbulkannya terus bertambah
  3. Stabil (stable). Hanya sekitar 30 % dari terumbu karang dunia berada dalam kondisi  stabil dan diharapkan akan  bertahan dalam waktu yang  sangat  lama. 

Menurut Nybakken (1988), untuk dapat memulihkan habitat terumbu karang dibutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu antara 50 hingga 100 tahun, tergantung dari kualitas perairan, tingkat tekanan terhadap lingkungan, letak terumbu karang yang akan menjadi sumber penghasil individu karang baru, dan lain-lain. Kerusakan habitat terumbu karang dapat menyebabkan inhibisi pertumbuhan jaringan dan rangka batu kapur karang, metabolisme tubuh menurun, respon perilaku termodifikasi, produksi mukus berlebih, kemampuan reproduksi melemah, serta hilangnya Zooxanthellae (Nganro, 2009).
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa keberadaan herbivora dan vertebrata laut mempengaruhi kesehatan terumbu karang. Vertebrata laut sangat penting dalam hal pendegradasian biomassa suatu spesies (Aronson, 2007). Akan tetapi, meningkatnya polutan organik merupakan tanda bahwa lokasi tersebut kaya akan unsur hara (nutrien) dan kelimpahan nutrien yang tidak terkendali akan menyebabkan peristiwa eutrofikasi yaitu ledakan populasi dari suatu jenis fitoplankton sehingga vertebrata pendegradasi tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya karena kelimpahan fitoplankton yang begitu tinggi (Ikawati, 2001). Hal ini juga menyebabkan adanya kompetisi antara karang dengan fitoplankton tersebut untuk mendapatkan cahaya matahari sebagai bahan fotosintesis. Seperti kita ketahui bahwa karang hidup bersimbiosis dengan zooxanthellae yang merupakan spesies algae uniseluler. Selama  fotosisntesis berlangsung, zooxanthellae memfiksasi sejumlah besar karbon  yang  dilewatkan  pada  polip  inangnya. Karbon ini sebagian besar berbentuk gliserol termasuk glukosa dan alanin. Produk kimia ini digunakan oleh  polip karang untuk menjalankan  fungsi metaboliknya atau sebagai pembangun blok-blok dalam  rangkaian  protein, lemak dan karbohidrat. Apabila terjadi ledakan satu jenis fitoplankton maka kesempatan zooxanthellae untuk berfotosintesis semakin kecil sehingga tidak ada materi organik (nutrisi) yang dapat digunakan spesies karang untuk menjalankan hidupnya yang pada akhirnya menyebabkan menurunnya kesehatan terumbu karang hingga kematian karang (Pastorok, 1985).
Sebagai suatu ekosistem, terumbu karang memiliki komponen-komponen sebagaimana ekosistem lain yaitu komponen biotik dan abiotik. Komponen-komponen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Keterkaitan antar komponen-komponen tersebut sangat erat sehingga  perubahan  salah satu komponen dapat  berakibat  pada berubahnya kondisi ekosistem. Berkaca pada pencemaran yang telah dijelaskan sebelumnya maka kematian terumbu karang dapat diasumsikan hilangnya salah satu komponen biotik di suatu ekosistem. Berkurang  atau  punahnya  salah  satu spesies tersebut dapat  berakibat  terjadinya  alur  tropik dalam  jaring  makanan  yang  tidak  konsisten  sehingga  memicu  terjadinya  kelabilan ekosistem.  Adanya  rantai  makanan  yang  terputus  (missing  link)  dapat  memicu munculnya  spesies-spesies asing (exotic  species) atau bioinvasi (Sunarto, 2006).
Peristawa algae bloom’s (eutrofikasi) juga dapat menyebabkan kematian pada spesies ikan. Pada 1979-1982 di Skotlandia, kematian ikan salmon meningkat karena adanya ledakan spesies Olisthodiscus sp. dan Chattonella sp. Selain itu, tahun 1978 di Inggris terjadi peningkatan kematian biota laut akibat melimpahnya Gyrodinium aureolum (Sindermann, 2006). Jenis  ikan karang yang ada di Indonesia diperkirakan  sebanyak 592  spesies. Sejumlah  736 spesies  ikan  karang  dari  254  genera  di  temukan  di perairan  Pulau  Komoodo. Sementara itu di Kepulauan Raja Ampat terdapat kenaekaragaman  spesies ikan  karang  tertinggi  di  dunia, sedikitnya terdapat 970 spesies (Sunarto, 2006). Akan tetapi, jumlah spesies ikan karang mulai menurun seiring dengan menurunnya angka produktivitas ekosistem terumbu karang. Suatu penelitian mengenai eutrofikasi di pantai terluar Long Island pada tahun 1986 menyebutkan bahwa setiap liter air mengandung 1.000.000.000 sel alga jenis Aurecoccus anophogefferens selama musim panas sehingga terjadi penurunan penetrasi cahaya ke dasar laut (Sindermann, 2006).
Secara kumulatif, ancaman-ancaman dari eskploitasi berlebihan, perubahan tata guna lahan, pencemaran, dan pembangunan pesisir, bersama dengan efek perubahan iklim global, memberi gambaran ketidakpastian masa depan ekosistem terumbu karang. Walaupun sudah diketahui secara luas bahwa terumbu karang sudah sangat terancam, informasi yang berkenaan dengan ancaman-ancaman tertentu di area yang spesifik sangatlah terbatas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas serta dana yang memadai untuk melakukan pengelolaan efektif pada ekosistem terumbu karang. Karena banyak tekanan pada terumbu karang yang berakar dari masalah sosial dan ekonomi, pengelolaan juga harus melihat aspek lain selain aspek biologi dimana upaya yang perlu ditekankan adalah pengentasan kemiskinan, mata pencaharian alternatif, perbaikan pemerintahan, dan peningkatan kepedulian masyarakat akan nilai terumbu karang serta ancaman yang dihadapinya. 

Daftar Pustaka

Aronson, Richard. 2007. Geological Approaches to Coral Reef Ecology. Springer Science + Business Media, LLC : New York.
Anonim. 2000. BAPEDAL Environmental Management Services Project. BRNP, EMS, BAPEDAL : Jakarta
Burke, Lauretta., Selig, E., dan Spalding, M. 2002. Terumbu Karang Yang Terancam di Asia Tenggara. World Resources Institute. ISBN 1-56973-510-7 INDONESIAN
Ikawati, Yuni., dkk. 2001. Terumbu Karang Di indonesia. Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi : Jakarta.
Nganro, Noorsalam. 2009. Metoda Ekotoksikologi Perairan Laut Terumbu Karang. Sekolah Ilmu Dan Teknologi Hayati, Institut teknologi Bandung : Bandung.
Nybakken, James. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia : Jakarka 
Pastorok, R., and Bilyard, R. 1985. Effects of Sewage Pollution on Coral-reef Communities. Marine Ecology. 21 : 175-189
Sembiring, Amstrong. 2010. Bahayanya Limbah Tailing Yang Dilahirkan Dari Perusahaan Tambang. http ://Kompasiana.com. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2010 Pukul 18.00 WIB
Sindermann, Carl. 2006. Coastal Pollution: Effects on Living Resources and Humans. Taylor & Francis Group : USA
Sudiono, Gatot. 2008. Analisis Pengelolaan Terumbu Karang Pada Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Pulau Randayan Dan Sekitarnya. Program Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Diponeoro : Semarang
Sunarto. 2006. Keanekaragaman Hayati Dan Degradasi Ekosistem Terumbu Karang. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran : Bandung.
Wilkinson, C.R., Chou, L.M., Gomez, E., Ridzwan, A.R., Soekarno, S., Sudara, S. (1993). Status of coral reefs in southeast Asia: Threats and responses. In: Global aspects of coral reefs: Health, hazards and history. Univ. Miami, Rosenthal School of Marine and Atmospheric Science. pp. J33-39.
Yudha, Indra. 2007. Pencemaran Perairan Dan Kerusakan Terumbu Karang Di Wilayah Pesisir Kota Bandar Lampung. Fakultas Pertanian, Universitas Lampung : Bandar Lampung.