Pages

Saturday, May 08, 2010

Pengukuran suHu Tubuh


PENDAHULUAN

 Latar Belakang
Kemampuan untuk merasa dan mengatur suhu temperatur merupakan kunci untuk bisa bertahan hidup. Panas memegang peranan untuk sintesis dan survive organisme pertama di bumi. Selain itu kemampuam untuk merasa dan mengatur suhu tubuh berkontribusi untuk evolusi organisme uniseluler menjadi organisme multiselular berdarah dingin (Lim, 2008).
Latihan fisik merupakan suatu lingkungan dimana fungsi termoregulasi diuji untuk bertahan dan mengetahui kerja suatu energi. Selama panas panjang, temperatur bisa meningkat dari  37°C sampai >42°C, sehingga bisa merusak cytoskeleton dan fungsi organ serta pusat saraf melemah. Termoregulator sangat penting untuk elindungi atlet dari cedera panas dan pengaturan kondisi panas dalam tubuhnya (Lim, 2008).
Hal tersebut menunjukkan bahwa lingkungan turut mempengaruhi suhu tubuh manusia. Karena itulah dilakukan praktikum ini dimana suhu tubuh diukur dengan beberapa lingkungan yang berbeda yang dalam hal ini adalah aktivitas manusianya (probandus) pada beberapa bagian tubuh yang berbeda pula dengan menggunakan thermometer klinis.

Permasalahan
Permasalahan yang dibahas pada praktikum ini adalah bagaimana mempraktikkan penggunaan thermometer klinis dan mengetahui suhu tubuh manusia pada beberapa bagian tubuh dan keadaan lingkungan yang berbeda.

Tujuan
Paktikum ini bertujuan untuk mempraktikkan penggunaan thermometer klinis dan mengetahui suhu tubuh manusia pada beberapa bagian tubuh dan keadaan lingkungan yang berbeda.


METODOLOGI

Alat dan Bahan
  •  Alat
   Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Suhu Tubuh Manusia adalah thermometer klinis dan kertas tissue
  • Bahan
Bahan yang digunakan adalah alkohol 70% dan es batu.

  • Cara Kerja
Pengukuran suhu tubuh dengan thermometer klinis dilakukan di fossa axillaris dan mulut. Probandus tidur terlentang dengan bagian atas terbuka. Ujung termometer dimasukkan ke fossa axillaris dan lengan diarahkan ke arah dada sehingga fossa axillaris tertutup. Ditunggu hingga terdengar bunyi dari termometer kemudian hasilnya dibaca dan dicatat. Setelah itu, ujung termometer dimasukkan di bawah lidah dan ditutup rapat. Ditunggu hingga terdengar bunyi dari termometer dan dicatat hasilnya. Selanjutnya, probandus disuruh bernafas melalui mulut terbuka. Temperatur dibaca setelah 5 menit dan setelah 10 menit. Probandus kemudian berkumur dengan es, dan temperatur dibaca setelah 5 menit dan setelah 10 menit. Semua hasil dicatat dalam suatu tabel.



HASIL DAN PEMBAHASAN

Praktikum suhu tubuh manusia bertujuan untuk mempraktikkan penggunaan termometer klinis dan untuk mengetahui suhu tubuh manusia pada beberapa bagian tubuh dan keadaan lingkungan. Menurut Benneth (1996) dan Gelfand (1998) dalam Ritarwan (2003),  umumnya suhu tubuh berkisar antara 36,1°C atau lebih rendah pada dini hari sampai 37,4°C pada sore hari.  Atau 36,5  + 0,7° C. Lebih lanjut dijelaskan, suhu tubuh rata-rata orang sehat 36,8° dengan titik terendah pada jam 06.00 pagi dan tertinggi pada jam 16.00. Suhu normal maksimum (oral) pada jam 06.00 adalah 37,2°C dan suhu normal maksimum pada jam 16.00 adalah 37,7°C. 
Langkah awal yang dilakukan pada praktikum ini adalah menyiapkan semua peralatan dan bahan-bahan yang dibutuhkan, yaitu thermometer klinis (digital), tissue, air es dan alkohol 70%.
Penggunaan termometer klinis (digital) lebih mudah dibandingkan dengan termometer biasa (raksa). Termometer klinis (digital) tidak memerlukan proses kalibrasi terlebih dahulu seperti termometer biasa (raksa) yang harus dikalibrasi terlebih dahulu dengan cara menurunkan suhu hingga 35º C (air raksa dikembalikan ke titik semula), tetapi dengan cara menekan tombol ON kemudian ujung termometer diletakkan pada bagian-bagian tubuh tertentu; misalnya mulut, untuk mengukur suhu tubuh.
Setelah itu dipilih probandusnya, yaitu laki-laki dan perempuan dimana probandus perempuan adalah praktikan dengan berat badan terkecil. Probandus laki-laki terpilih adalah Mahmud dengan berat badan 51 kg dan probandus perempuan adalah Meirina dengan berat badan 41 kg.
Praktikum ini sendiri dilakukan di dua ruang yang berbeda, yaitu ruang laboratorium Zoologi (suhu ruang) dan ruang ber-AC (depan ruangan kepala lab. zoologi). Hal ini bertujuan untuk membandingkan suhu tubuh seseorang pada ruang dengan suhu tinggi dan suhu rendah serta bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari faktor lingkungan (suhu luar) terhadap suhu tubuh seseorang.
Pengukuran suhu tubuh yang pertama yaitu pada bagian fossa axillaris. Masing-masing probandus mengambil posisi tidur terlentang. Selanjutnya ujung termometer klinis diletakkan di fossa axillaris dengan posisi lengan diarahkan ke dada dimana hal ini dimaksudkan agar pengukuran suhu tidak dipengaruhi oleh suhu lingkungan (suhu luar) sehingga suhu yang terukur adalah benar-benar merupakan suhu tubuh probandus.
Setelah pengukuran suhu probandus melalui fossa axillaris selesai, termometer kemudian dibersihkan dengan alkohol 70%. Larutan alkohol 70% berwarna bening dan berfungsi sebagai desinfektan sehingga termometer tetap steril dan aman digunakan untuk prosedur selanjutnya. Ujung termometer klinis kemudian dimasukkan di bawah lidah masing-masing probandus dan kemudian mulut ditutup rapat. Hal ini dimaksudkan supaya ketika pengukuran suhu tubuh berlangsung tidak ada pengaruh dari luar (suhu lingkungan).
            Prosedur selanjutnya yaitu masing-masing probandus bernafas melalui mulut terbuka selama 5 menit dan 10 menit. Bernafas melalui mulut yang terbuka ini dimaksudkan untuk memasukkan udara dari lingkungan luar dimana udara dari lingkungan luar memiliki suhu yang berbeda dengan suhu tubuh sehingga dapat diketahui pengaruh suhu lingkungan luar terhadap pengukuran suhu.
Pengukuran suhu tubuh selanjutnya dilakukan setelah masing-masing probandus berkumur dengan es batu selama 5 menit dan 10 menit. Perlakuan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dingin terhadap suhu tubuh manusia.
Keempat prosedur tersebut dilakukan oleh masing-masing probandus pada dua tempat yang telah dikatakan sebelumnya; yaitu di laboratorium zoologi dan di depan ruang Ka. Lab. Zoologi.
            Melalui hasil pengamatan (data tertera pada lampiran) dapat diketahui bahwa suhu tubuh di dalam ruang ber-AC lebih rendah daripada ruang non-AC. Hal ini disebabkan karena suhu lingkungannya yang berbeda. Suhu lingkungan yang berbeda akan menimbulkan efek yang berbeda pula, dimana apabila suhu lingkungan lebih panas akan terjadi vasodilatasi pembuluh, sedangkan apabila suhu lingkungan lebih dingin akan terjadi vasokontriksi pembuluh. Hal inilah yang mengakibatkan terjadi perbedaan suhu tubuh pada lingkungan yang berbeda.
            Pengukuran suhu tubuh melalui mulut berbeda hasilnya dengan pengukuran melalui fossa axilaris. Hal ini disebabkan karena pada pengukuran fossa axilaris relatif masih terpengaruh oleh suhu ruangan karena thermometer tidak diletakkan tepat di fossa axilaris melainkan di luar baju yang menutupi fossa axilaris. Sedangkan pengukuran suhu melalui mulut hanya sedikit dipengaruhi oleh lingkungan karena diletakkan di bawah lidah dengan mulut yang tertutup rapat.
Data pengukuran suhu tubuh dengan perlakuan bernafas melalui mulut menunjukkan bahwa suhu pada mulut terbuka lebih rendah dari pada suhu dengan mulut tertutup. Hal ini dikarenakan bernafas dengan posisi mulut terbuka, maka panas dalam tubuh (hasil proses respirasi/bernafas) dikeluarkan sehingga suhu tubuh menurun. Namun pada pengukuran suhu tubuh setelah bernafas dengan mulut terbuka selama 10 menit terjadi kenaikan suhu tubuh karena tubuh telah melakukan mekanisme adaptasi, salah satunya dengan meningkatkan respirasi sehingga suhu tubuh kembali naik.
Pengukuran suhu tubuh setelah berkumur dengan es batu selama 5 menit dan 10 menit menunjukkan terjadi penurunan suhu tubuh. Suhu bawah lidah terpengaruh dengan suhu es batu sehingga terjadi penurunan suhu.
Dari hasil pengamatan tersebut maka dapat dikatakan bahwa faktor - faktor yang mempengaruhi suhu tubuh meliputi :
1.  Variasi diurnal
Suhu tubuh bervariasi pada siang dan malam hari. Suhu terendah manusia yang tidur pada malam hari dan bangun sepanjang siang terjadi pada awal pagi dan tertinggi pada awal malam. 
2.  Kerja jasmani/ aktivitas fisik
Setelah latihan fisik atau kerja jasmani suhu tubuh akan naik terkait dengan kerja yang dilakukan oleh otot rangka. Setelah latihan berat, suhu tubuh dapat mencapai 40°C.
3.  Jenis kelamin
Sesuai dengan kegiatan metabolisme, suhu tubuh pria lebih tinggi daripada wanita. Suhu tubuh wanita dipengaruhi daur haid. Pada saat ovulasi, suhu tubuh wanita pada pagi hari saat bangun meningkat 0,3-0,5°C. 
4.  Lingkungan
Suhu lingkungan yang tinggi akan meningkatkan suhu tubuh. Udara lingkungan yang lembab juga akan meningkatkan suhu tubuh karena menyebabkan hambatan penguapan keringat, sehingga panas tertahan di dalam tubuh.
(Anonim, 2010).
Perubahan suhu tubuh dideteksi oleh 2 jenis termoreseptor, satu di kulit (peripheral thermoreceptors) dan satu lagi di hipotalamus, medula spinalis (central thermoreceptors). Termoreseptor sentral memberi umpan balik yang penting dalam mempertahankan suhu inti tubuh ketika termoreseptor perifer memberi informasi. Hipotalamus mengintegrasikan refleks dan mengirimnya melalui saraf simpatis ke kelenjar keringat, arteriola kulit, dan medula adrenal serta melalui saraf motorik ke otot rangka. Suhu tubuh diatur oleh hipothalamus (lihat Gambar 4.5) untuk mempertahankan suhu tubuh pada suhu lingkungan antara 27,8° - 30°C. Kisaran suhu lingkungan ini disebut thermoneutral zone (Anonim, 2010)

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah suhu tubuh manusia dapat diukur menggunakan termometer klinis, yaitu dengan menyelipkan termometer klinis ke dalam lipatan fossa axilaris atau bawah lidah kemudian ditunggu hingga terdengar bunyi dari termometer. Angka yang muncul pada termometer setelah termometer berbunyi adalah nilai dari suhu tubuh ketika pengukuran. Suhu tubuh dipengaruhi kondisi lingkungan. Apabila suhu luar lebih panas maka akan terjadi vasodilatasi, sedangkan apabila suhu lingkungan lebih dingin akan terjadi vasokontriksi. Suhu tubuh di ruang ber-AC lebih rendah daripada di suhu kamar. suhu tubuh di bawah lidah umumnya lebih hangat daripada fossa axilaris. Suhu tubuh setelah bernafas melalui mulut dan berkumur dengan es menyebabkan suhu tubuh menurun.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Pengaturan Suhu Tubuh. http://www.staff.ui.ac.id/thermoregulation.Diakses pada Tanggal 19 April 2010 pukul 18.05 WIB
Gębczyński, Andrzej. K.  Daily Variation of Body Temperature, Locomotor Activity And Maximum Nonshivering Thermogenesis in Two Spesies of Small Rodents. Elsevier : Journal of The Biology 29 (2004) : 123-131.
Guyton, Arthur. 1995. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran : Jakarta
Hidayati, Dewi. 2010. Modul Fisiologi Hewan. FMIPA ITS : Surabaya.
Lim, Leong.C., Byrne, C . Human Thermoregulation and Measurement of Body Temperature in Exercise and Clinical Settings. Thermoregulation in Sports and Exercise 2008; 37 (4).
Ritarwan, Kiking. 2003. Pengaruh Suhu Tubuh Terhadap Outcame Penderita Stroke yang Dirawat di RSUP H. Adam Malik Medan. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara : Medan.

Menghitung Eritrosit Dan Leukosit

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di seluruh plasma darah, terdapat dua kelas sel darah yang menyebar yaitu eritrosit (sel darah merah) dan leukosit (sel darah putih). Eritrosit berfungsi sebagai pengangkut oksigen, sedangkan leukosit berperan dalam proses imunitas (pertahanan tubuh). Unsur seluler yang ketiga adalah keping darah yang berperan penting pada proses penggumpalan darah (Campbell, 2004).
Meskipun jumlah darah pada manusia umumnya sama (4-6 L), tetapi jumlah komponen sel-sel darahnya berbeda, terutama jumlah sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit). Salah satu faktor yang mempengaruhi perbedaan jumlah sel-sel darah tersebut adalah jenis kelamin. Hidayati (2007) mengemukakan bahwa jumlah eritrosit pada laki-laki dewasa sehat berkisar 4,2 – 5,5 juta sel per milimeter kubik, sedangkan jumlah eritrosit pada wanita sehat berkisar pada 3,2 – 5,2 juta sel per milimeter kubik. Karena itulah kali ini dilakukan percobaan mengenai penghitungan eritrosit dan leukosit dengan dua probandus, yaitu laki-laki dan wanita, dimana penghitungannya dilakukan dengan menggunakan bilik hitung yang terdapat pada Haemacytometer Iproved Neubauer.
Permasalahan
Permasalahan yang dihadapi pada percobaan ini adalah bagaimana menghitung sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit) dengan menggunakan bilik hitung pada Haemacytometer Improved Neubauer.
Tujuan
Percobaan ini bertujuan untuk menghitung sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit) dengan menggunakan bilik hitung pada Haemacytometer Improved Neubauer. 


METODOLOGI
Alat Dan Bahan
  • Alat
Peralatan yang digunakan pada percobaan ini adalah haemacytometer, pipet tetes, pipet thoma, tissue, lanset, dan mikroskop. 
  • Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah darah segar (dari dua probandus), larutan hayem, larutan trunk, alcohol 70%, NaCl 0,9%, dan aquadest/air kran.

 Cara Kerja
Dua orang praktikan dipilih sebagai probandus, yaitu praktikan yang memiliki bobot badan tertinggi dan praktikan yang berat badannya mendekati berat badan probandus pertama.

Perhitungan Eritrosit
  • Pencarian Ruang Hitung
Counting chamber dibersihkan terlebih dahulu dengan kertas tissue, lalu ditetesi air dan ditutup dengan gelas penutupnya. Setelah itu dilakukan pencarian ruang hitung di bawah lensa objek mikroskop dengan perbesaran 100.

  • Preparasi Sel Darah Merah (Eritrosit)
Ujung jari probandus diolesi dengan alkohol 70%, kemudian ditusuk dengan blood lanset steril. Darah dibiarkan keluar tanpa harus dipijat. Darah yang keluar kemudian dihisap dengan pipet pengencer hingga skala 1, lalu dibersihkan ujung pipet dengan kertas saring. Jika terdapat gelembung udara, maka darah dikeluarkan kembali dan diulangi perlakuan seperti semula. Larutan hayem dihisap hingga tepat skala 101. Kemudian pipet dipegang kedua ujungnya dengan ibu jari dan telunjuk lalu dikocok dengan hati-hati selama ± 2 menit. Larutan yang terdapat dalam pipet pengencer kemudian dibuang 3-4 tetes, lalu diletakkan ujung pipet pengencer di counting chamber yang telah ditemukan ruang hitungnya, kemudian dibiarkan 1-2 menit hingga sel-sel darah mengendap. Larutan diusahakan tidak sampai mengalir ke parit di sekeliling counting chamber. Counting chamber yang telah siap kemudian di letakkan di bawah mikroskop untuk dihitung jumlah eritrositnya. Setelah itu dihitung pula eritrosit probandus kedua dengan prosedur yang sama.

Perhitungan Leukosit
  • Pencarian Ruang Hitung
Counting chamber dibersihkan terlebih dahulu dengan kertas tissue, lalu ditetesi air dan ditutup dengan gelas penutupnya. Setelah itu dilakukan pencarian ruang hitung di bawah lensa objek mikroskop dengan perbesaran 100.

  • Preparasi Sel Darah Putih (Leukosit)
Ujung jari probandus diolesi dengan alkohol 70%, kemudian ditusuk dengan blood lanset steril. Darah dibiarkan keluar tanpa harus dipijat. Darah yang keluar kemudian dihisap dengan pipet pengencer hingga skala 1, lalu dibersihkan ujung pipet dengan kertas saring. Jika terdapat gelembung udara, maka darah dikeluarkan kembali dan diulangi perlakuan seperti semula. Larutan turk dihisap hingga tepat skala 101. Kemudian pipet dipegang kedua ujungnya dengan ibu jari dan telunjuk lalu dikocok dengan hati-hati selama ± 2 menit. Larutan yang terdapat dalam pipet pengencer kemudian dibuang 3-4 tetes, lalu diletakkan ujung pipet pengencer pada counting chamber bersih, kemudian dibiarkan 1-2 menit hingga sel-sel darah mengendap. Larutan diusahakan tidak sampai mengalir ke parit di sekeliling counting chamber. Counting chamber yang telah siap kemudian di letakkan di bawah mikroskop untuk dihitung jumlah leukositnya.


HASIL DAN PEMBAHASAN


Data Pengamatan

Probandus
Eritrosit (sel/mm3)
Leukosit (sel/mm3)
Mahmud
2, 75 juta
1475
Pristy
1, 06 juta
1375
Indrawan
2, 96 juta
737,5
Rosiana
1, 35 juta
512,5

Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit manusia dengan menggunakan bilik hitung pada Haemacytometer Improved Neubauer. Praktikum ini dilakukan dengan beberapa langkah. Langkah awal yang dilakukan yaitu menentukan probandus sebannyak 2 orang (untuk masing-masing kelompok). Penentuan probandus ini didasarkan pada jenis kelamin. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan perbedaan jumlah eritrosit pada laki-laki dan perempuan. Probandus yang telah ditentukan yaitu Pristi dan Rosiana (perempuan) dengan berat badan 49 kg dan Mahmud dan Indrawan (laki-laki) dengan berat badan 50 kg (Mahmud) dan 45 kg (Indrawan). Semua probandus tersebut diberi perlakuan yang sama. Pada laki-laki dan perempuan terdapat perbedaaan jumlah sel darah (baik sel darah merah maupun sel darah putih). Pada umumnya, jumlah sel darah (eritrosit dan leukosit) pada laki-laki jumlahnya lebih tinggi dari pada perempuan. Hal ini disebabkan karena pada wanita mengalami siklus menstruasi di mana setiap bulan mengeluarkan sejumlah darah akibat dari luruhnya dinding endometrium. Keluarnya darah pada wanita akibat siklus menstruasi menyebabkan jumlah total sel darah pada tubuh wanita berkurang atau lebih rendah dari pada jumlah total sel darah pada laki-laki.
Langkah selanjutnya yaitu mencari fokus dari mikroskop dengan cara meletakan counting chamber pada bagian stage dan menaikan perlahan lahan dengan menggunakan makrometer sampai terlihat daerah kotak perhitungan (bilik kamar hitung). Selanjutnya ujung jari kiri probandus diolesi dengan kapas yang telah diberi alkohol 70%. Menurut Waluyo (2008) larutan alkohol 70% bersifat disinfektan, yaitu mencegah kontaminasi dari mikroorganisme tertentu ujung jari probandus menjadi steril dan tidak infeksi.
Pada percobaan ini digunakan tangan kiri karena jaringan epidermis pada tangan kiri lebih tipis dibandingkan tangan kanan sehingga pembuluh darah lebih cepat terluka dan darah lebih cepat keluar. Pada percobaan ini juga digunakan ujung jari tangan kiri ke-3 atau ke-4 karena saraf-saraf di jari tengah dan jari manis (jari ke-3 atau ke-4) lebih sedikit dibandingkan dengan jari telunjuk atau jari yang lainnya sehingga apabila ditusuk tidak terlalu terasa sakit dibandingkan dengan jari yang lain. Dan hal ini memudahkan dalam pengambilan sampel darah dari probandus.  
Setelah steril dengan alkohol, ujung jari probandus ditusuk menggunakan jarum franke hingga keluar darah. Penusukan ini bertujuan untuk membuat luka (merusak) pembuluh darah sehingga darah mengucur keluar. Jarum yang digunakan pada masing-masing probandus harus baru atau berbeda sehingga tidak terjadi infeksi atau pencampuran darah yang tidak homogen. Kemudian dengan cepat darah yang mengucur keluar dihisap dengan pipet thoma dengan inti gelas merah dan inti gelas putih. Pipet thoma ini merupakan pipet yang digunakan untuk pengenceran darah. Pipet dengan inti gelas merah merupakan pipet pengencer untuk eritrosit dimana skalanya adalah 101, sedangkan pipet dengan inti gelas putih adalah pipet pengencer leukosit dengan skala 11. Perbedaan antara pipet thoma inti gelas merah dan inti gelas putih terletak pada volume kedua pipet tersebut dimana volume pipet inti gelas merah adalah 101 yang membutuhkan pengenceran 100-200 kali sedangkan pipet inti gelas putih adalah 11 dengan pengenceran 10-20 kali. Pengenceran terhadap eritrosit lebih tinggi dibandingkan pengenceran terhadap leukosit karena jumlah eritosit pada manusia jauh lebih banyak daripada jumlah leukositnya.
Selain penghisapan darah dengan pipet thoma secara cepat, untuk mencegah penyumbatan pada pipet thoma digunakan pula larutan NaCl. Selain itu, untuk meminimalkan gangguan saat pengamatan penghisapan darah harus dilakukan sacara hati-hati supaya tidak timbul gelembung di dalam pipet.
  
Menghitung Eritrosit

Untuk menghitung jumlah eritrosit, darah dihisap hingga skala 1 lalu diteruskan dengan menghisap larutan Hayem hingga skala 101, artinya pengenceran dilakukan 100 kali. Pengenceran dapat dilakukan hingga 200 kali jika darah dihisap hingga skala 0,5 dan konsentrasi darah terlalu pekat.

Sementara itu digunakan larutan Hayem sebagai pengencer eritrosit karena larutan Hayem mengandung zat-zat yang sifatnya tidak merusak eritrosit. Kandungan larutan Hayem tersebut berupa 5 gr Natrium Sulfat, 1 gr Natrium clorit, formalin 40% dan 200 ml air suling (Syaifuddin, 1997).
Natrium Sulfat merupakan salah satu zat antikoagulan sehingga mencegah aglutinasi atau penggumpalan darah. Selain itu, Natrium Sulfat berfungsi untuk melisiskan trombosit dan leukosit sehingga ketika pengamatan di bawah lensa objektif mikroskop hanya eritrosit saja yang terlihat. Natrium clorit pada larutan Hayem berfungsi sebagai zat isotonis pada eritrosit, sedangkan formalin 40% berfungsi untuk mengawetkan atau mempertahankan bentuk discoid eritrosit. Dari penjelasan tersebut maka dapat dikatakan bahwa larutan Hayem berfungsi untuk :
1.      Larutan isotonis bagi eritrosit
2.      Pengencer eritosit
3.      Merintangi pembekuan darah (mencegah aglutinasi)
4.      Memperjelas bentuk eritrosit
5.      Mempertahankan bentuk discoid eritrosit
(Syaifuddin, 1997).
Setelah pengenceran kedua ujung pipet dipegang dan dikocok selama dua menit dimana pengocokan tersebut berfungsi untuk menghomogenkan larutan yang ada di dalam pipet thoma. Setelah itu sebelum dimasukkan ke dalam Haemacytometer, dua tetesan darah pertama dibuang. Prosedur ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan akurasi (validitas) sel darah yang akan dihitung karena pada ujung pipet thoma kemungkinan kecil tidak terdapat sel-sel darah, dimana ada dua kemungkinan. Pertama bagian ujung pipet thoma adalah larutan Hayem sedangkan darah terdapat di bagian pangkal (atas) pipet. Hal tersebut berkaitan dengan massa jenis sel darah dan larutan Hayem dimana massa jenis sel darah lebih rendah dibandingkan massa jenis larutan Hayem sehingga sel darah terletak di atas larutan Hayem.
Kemungkinan kedua adalah saat pengocokan darah dan larutan Hayem tercampur sempurna hanya pada gelembung pipet. Kemungkinan ujung pipet telah diisi oleh darah yang mengendap sehingga sulit dilewati oleh larutan di dalam pipet thoma. Oleh karena itulah larutan di ujung pipet harus dibuang agar data yang di dapatkan benar-benar akurat.
Setelah itu larutan diteteskan ke dalam counting chamber (daerah kotak perhitungan) yang ditutupi oleh kaca penutup. Kemudian diamati di bawah mikroskop dalam kotak R (kotak kecil yang terletak di tengah terbagi menjadi 25 bujur sangkar dengan sisi 1/5 mm) pada counting chamber serta dihitung jumlah eritrositnya.
Kotak yang digunakan untuk menghitung eritrosit adalah kotak R (kotak kecil yang terletak di tengah terbagi menjadi 25 bujur sangkar dengan sisi 1/5 mm). Kotak ini lebih kecil dari pada kotak perhitungan leukosit, yaitu kotak W (kotak kecil yang terletak di bagian pojok dan masing-masing terbagi lagi menjadi 16 kotak dengan sisi ¼ mm). Apabila pengenceran yang dilakukan tidak tinggi (seperti pada perhitungan leukosit), maka eritrosit yang terdapat pada kotak R sangat banyak sehingga tidak jelas dan susah diamati.
Dari hasil perhitungan dapat dikatakan bahwa jumlah eritrosit dari masing-masing probandus kurang dari normal. Hal ini dikarenakan selisih antara jumlah eritrosit normal dan data hasil praktikum berbeda jauh atau signifikan. Jumlah eritrosit normal pada laki-laki dewasa berkisar antara ± 4,2 - 5,5 juta SDM/mm3 dan wanita dewasa sehat ± 3,2 - 5,2 juta SDM/mm3.  Namun, jumlah eritrosit pada Mahmud hanya 2,705 juta sel/mmdan Indrawan sebesar 2,96 juta SDM/mm3. Sedangkan  jumlah sel darah merah probandus Pristi hanya 1,06 juta SDM/mm3 dan Rosiana sebesar 1, 35 juta SDM/mm3. Ketidaknormalan jumlah sel darah merah pada kedua probandus ini dikarenakanan adanya beberapa faktor. Faktor yang pertama adalah pengenceran yang kurang besar sehingga sel darah merah terlihat menumpuk dan mengurangi keakuratan penghitungan. Selain itu, keabnormalan tersebut dapat pula diindikasikan sebagai akibat kurang telitinya praktikan sewaktu melakukan perhitungan di bawah lensa mikroskop. Faktor lainnya adalah kondisi tubuh yang kurang sehat dimana probandus Mahmud baru saja dirawat di rumah sakit sehingga dapat dikatakan kondisi fisiknya masih lemah. Karena menurut Guyton (1997) kondisi fisik seseorang dapat mempengaruhi volume sel darah merahnya.


Menghitung Sel Darah Putih (Leukosit) 
Dengan cara yang sama pada percobaan pertama, darah diambil dari probandus. Namun terdapat perbedaan yaitu pada pipet yang digunakan menggunakan skala 11 dan larutan pengencer yang digunakan adalah larutan turk. Komposisi dari  larutan Turk adalah 2% asam asetat glasial dan 1 ml larutan gentian violet 1% , serta 475 ml air suling.  Syaifuddin (1997) mengemukakan bahwa asam asetat glasial berfungsi untuk melisiskan eritrosit dan trombosit, sedangkan gentian violet merupakan zat warna ungu bersifat basa yang dapat berikatan dengan inti dan sitoplasma  sel sehingga memberikan kejelasan warna di bawah mikroskop yang selanjutnya akan memudahkan perhitungan sel target yang dalam hal ini adalah sel darah putih.
Pada perhitungan leukosit dilakukan pengenceran 10 kali. Hal ini disebabkan jumlah leukosit di dalam tubuh manusia jumlahnya lebih sedikit dibandingkan jumlah eritrosit, yaitu 7.000-9.000 SDP/mm3 sehingga untuk menghitungnya tidak diperlukan pengenceran yang tinggi. Kotak yang digunakan untuk menghitung leukosit adalah kotak W (kotak kecil yang terletak di bagian pojok dan masing-masing terbagi lagi menjadi 16 kotak dengan sisi ¼ mm) dimana ukuran kotak W lebih besar daripada kotak perhitungan eritrosit (kotak R). Apabila pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi (seperti pada perhitungan eritrosit), maka jumlah leukosit yang terdapat pada kotak W sangat sedikit sehingga tidak mewakili jumlah SDP yang seharusnya. 
Selanjutnaya sel darah putih dihitung dengan cara yang sama dengan menggunakan mikroskop, tetapi bilik hitung yang diamati pada kamar W (kotak kecil yang terletak di bagian pojok dan masing-masing terbagi lagi menjadi 16 kotak dengan sisi ¼ mm). Dari pengamatan yang telah dilakukan, diketahui jumlah leukosit pada counting chamber (kotak W) dari kedua probandus.
Dari hasil pengamatan dapat dikatakan bahwa jumlah leukosit dari semua probandus adalah tidak normal. Jumlah leukosit normal pada manusia dewasa berkisar antara ± 4.000-11.000 SDP/mm3 sedangkan pada probandus Mahmud jumlah leukositnya hanya 1475 SDP/mm3  dan leukosit Indrawan sebesar 737,5 SDP/mm3. Sementara itu, jumlah leukosit pada probandus Pristi adalah 1375 SDP/mm3 ,sedangkan leukosit Rosiana adalah 512,5 SDP/mm3.
Dalam sel darah, jumlah leukosit lebih sedikit dibandingkan dengan sel darah merah. Hal ini terkait dengan fungsi leukosit dan eritrosit. Menurut Campbell (2004), eritrosit berfungsi untuk mengangkut atau membawa oksigen yang berikatan dengan hemoglobin dari paru-paru ke seluruh jaringan dan organ. Beberapa karbon dioksida yang dihasilkan di dalam jaringan dan organ juga diangkut berikatan dengan hemoglobin ke paru-paru dan dikeluarkan, beberapa diubah menjadi asam karbonik yang dipecah. Sel darah merah juga berfungsi mengatur pH darah sedangkan leukosit berfungsi sebagai pengatur sistem imun pada tubuh. Karena itulah jumlah maksimum leukosit hanya akan tampak jika keadaan tubuh seseorang kurang sehat (sakit). Akan tetapi, jumlah leukosit tetap tidak akan sebanyak jumlah eritrosit manusia.  

Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Eritrosit Dan Leukosit
Meskipun pada berbagai literatur disebutkan jumlah eritrosit dan leukosit normal pada manusia, tetapi sebenarnya jumlah sel darah antar individu tidaklah sama. Hal tersebut dikarenakan adanya beberapa factor yang mempengaruhi jumlah sel darah kita.
Faktor yang pertama adalah jenis kelamin. Sesuai dengan literatur (Hidayati, 2007) jumlah eritrosit normal pada laki-laki dewasa berkisar antara ± 4,2 - 5,5 juta SDM/mm3 dan wanita dewasa sehat ± 3,2 - 5,2 juta SDM/mm3. Akan tetapi, jumlah tersebut tidaklah sama antar individu meskipun memiliki jenis kelamin yang sama. Hal tersebut dikarenakan aktivitas tubuh seseorang berbeda dengan aktivitas orang lain dimana semakin tinggi aktivitas seseorang, semakin banyak pula sel darahnya (khususnya sel darah merah). Kesehatan atau kondisi fisik seseorang juga sangat mempengaruhi jumlah sel darah. Seseorang yang sedang sakit memiliki jumlah sel darah putih yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang sehat karena sel darah putih berfungsi pada proses imunitas/kekebalan tubuh seseorang. Selain itu, berat badan seseorang juga menjadi faktor penentu banyaknya sel darah. Dimana semakin berat badan seseorang, semakin banyak sel darahnya.
Jumlah sel darah manusia juga bergantung pada faktor keturunan/genetik. Misalnya seseorang yang terkena penyakit Hemofili atau anemia bisa menurunkan penyakit kelainan sel darah tersebut pada generasi selanjutnya.
Usia atau umur juga mempengaruhi jumlah eritrosit. Pada saat bayi baru lahir jumlah eritrosit berkisar 6,83 juta/ml, kemudian saat bayi tumbuh jumlah tersebut menurun hingga 4 juta sel/ml, kemudian naik lagi pada orang dewasa sehat kira-kira 4,5 juta sel/ml. Sumsum tulang dari semua tulang memproduksi sel darah merah sampai seseorang berusia lima tahun, tetapi sumsum tulang panjang (kecuali bagian humerus dan tibia) menjadi sangat berlemak dan tidak memproduksi sel-sel darah merah setelah kurang lebih usia 20 tahun. Setelah usia ini kebanyakan sel darah merah diproduksi dalam sumsum tulang membranosa, seperti vertebra sternum, iga, dan ilium. Bahkan dalam tulang-tulang ini sumsum menjadi kurang produktif (Guyton, 1997).



KESIMPULAN

Setelah melakukan pengamatan dan menganalisis hasilnya maka dapat disimpulkan bahwa untuk menghitung jumlah eritrosit manusia dapat dilakukan dengan menggunakan counting chamber pada Haemacytometer dimana ruang hitung yang digunakan adalah kotak kecil yang terletak di tengah yang terbagi menjadi 25 bujur sangkar dengan sisi 1/5 mm (kotak R). Hasil perhitungannya adalah jumlah eritrosit Mahmud hanya 2,705 juta sel/mmdan Indrawan sebesar 2,96 juta SDM/mm3. Sedangkan  jumlah sel darah merah probandus Pristi hanya 1,06 juta SDM/mm3 dan Rosiana sebesar 1, 35 juta SDM/mm3dimana hasil tersebut menyebutkan bahwa jumlah sel darah merah keduanya tidak normal. Sedangkan pada perhitungan leukosit digunakan pula counting chamber pada Haemacytometer tetapi dengan kotak hitung yang berbeda yaitu kotak kecil yang terletak di bagian pojok dan masing-masing terbagi lagi menjadi 16 kotak dengan sisi ¼ mm dan dikenal sebagai kotak W. Hasil perhitungannya juga menunjukkan ketidaknormalan yaitu pada probandus Mahmud jumlah leukositnya hanya 1475 SDP/mmdan leukosit Indrawan sebesar 737,5 SDP/mm3. Sementara itu, jumlah leukosit pada probandus Pristi adalah 1375 SDP/mm3 ,sedangkan leukosit Rosiana adalah 512,5 SDP/mm3.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Sel Darah Manusia. http://www.tanyadokter. com/disease.asp?id=1001355. www.google.com. Diakses pada tanggal 25 April 2010 pukul 14.00 WIB
Anonim. 2009. Abnormalitas Eritrosit. http://scumdoctor.com. Diakses pada tanggal 23 April 2010 pukul 19.45 WIB
Campbell. 2004. Biologi Jilid 3 Edisi ke-5. Erlangga: Jakarta.
Cappuccino. 2001. Microbiology: A Laboratory Manual. Benjamin Chummings : USA
Guyton dan Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. EGC Penerbit Buku kedokteran: Jakarta
Hidayati, Dewi. 2007. Modul Ajar Fisiologi Hewan. Program Studi Biologi ITS : Surabaya.
Pearce, Evelyn C. 1979.  Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT.Gramedia.
Subowo. 2002. Histologi Umum. Bumi Aksara : Jakarta
Sumadi dan Aditya M. 2004.  Buku Ajar Biologi Sel. Semarang : Jurusan Biologi-FMIPA-UNNES.
Syaifuddin. 1997. Anatomi Fisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Yuwono, S.S., Sulaksono, Edhie., dan Yekti, R.P. 2009. Keadaan Nilai Normal Baku Mencit strain CBR Swiss Derived. Pusat Penelitian Penyakit Menular; Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI : Jakarta
Waluyo, Lud. 2008. Teknik Metode Dasar Mikrobiologi. Universitas Muhammadiyah Malang Press: Malang   
Watson, Roger. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat Edisi 10. EGC Buku Kedokteran : Jakarta.

Analisis Enzim Pencernaan Pada Usus Ikan Mas (Cyprinus carpio)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Karbohidrat adalah kelompok nutrien yang penting dalam susunan makanan, sebagai sumber kalori. Sumber karbohidrat diantaranya gula pasir, buah-buahan, madu, sayuran, susu, dan produk olahannya. Makanan yang berasal dari hewan, misalnya daging atau ikan mengandung sangat sedikit karbohidrat kecuali sejumlah kecil glikogen. Bahan-bahan makanan di atas tidak dapat diserap dalam bentuk alami melalui mukosa saluran pencernaan dan karena alasan ini, bahan-bahan tersebut tidak berguna sebagai zat nutrisi tanpa proses pencernaan, baik pencernaan mekanik maupun pencernaan kimiawi. Proses pencernaan kimiawi sesungguhnya sangat sederhana, karena pada ketiga jenis zat makanan utama (karbohidrat, protein, dan lemak) terjadi proses hidrolisis dasar yang sama (Guyton, 1997).
Pada sebagian vertebrata, khususnya mamalia, pencernaan makanan secara kimiawi mulai terjadi di rongga mulut dimana yang dicerna pertama kali adalah karbohidrat. Kemudian hasil hidrolisis karbohidrat akan menuju ususs halus untuk dicerna menjadi molekul yang lebih sederhana lagi. Usus halus merupakan tempat terjadinya absorbsi makanan, karena itulah dapat dikatakan bahwa sebenarnya pencernaan makanan secara kimiawi berpusat di usus halus (intestinum), terutama pada spesies ikan. Hal tersebut dikarenakan proses pencernaan kimiawi pada ikan baru di mulai di bagian ususnya karena rongga mulut ikan tidak memilki kelenjar saliva yang mampu menghasilkan amilase saliva. Karena itulah dilakukan percobaan ini dimana tujuannya adalah menganalisis enzim pencernaan makanan yang terdapat di usus ikan, khususnya ikan mas (Cyprinus carpio) serta menguji fungsi empedu dalam sistem pencernaan.
Permasalahan
Permasalahan yang timbul pada percobaan ini adalah bagaimana mengetahui macam-macam enzim pencernaan paa usus ikan mas (Cyprinus carpio) serta bagaimana mengetahui fungsi empedu bagi sistem pencernaan.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengethaui macam-macam enzim pencernaan manakan yang terdapat pada usus ikan serta mengetahui fungsi empedu dalam pencernaan makanan. 

METODOLOGI
Alat
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini meliputi sepuluh buah tabung reaksi, botol fial/botol film gelap, kertas saring, alas lilin, bunsen, korek api, mortar dan alu, cawan Petri, rak tabung reaksi, gelas ukur 10 ml, corong kaca, dan pipet tetes.
Bahan
Bahan-bahan yang dibutuhkan pada percobaan ini adalah ikan mas (Cyprinus carpio), empedu ayam, aquadest, toluen, larutan amilum 1%, Gliserin 1%, Alnumin/putih telur, minyak goreng, reagen biuret, reagen benedict, dan larutan sukrosa.
Cara Kerja

  • Pembuatan Ekstrak Usus
Ikan mas (Cyprinus carpio) segar dibedah bagian ventralnya. Kemuadian dipisahnkan usus halusnya dari organ-organ lain dengan memotong dari bagian akhir lambung dan bagian awal usus besar. Setelah itu usus halus disayat secara longitudinal dan dibersihkan dengan aquadest, lalu dimasukkan ke dalam 20 ml larutan gliserin 50% yang berada di cawan Petri, lalu usus dihaluskan. Kemudian ditambahkan 5 tetes toluen sembari tetap menghaluskan usus. Setelah itu usus dimasukkan ke dalam botol fial gelap dan disimpan selama satu minggu (6-7 hari). Setelah 7 hari penyimpanan usus disaring dengan menggunakan kertas saring dan dilakukan tes untuk membuktikan adanya enzim pencernaan pada usus ikan mas.

  • Pembuktian adanya Enzim Amilase
Empat buah tabung reaksi disiapkan dan diberi label A, B, C, dan D. Dua buah tabung reaksi berlabel A dan B diisi dengan 2 ml reagen Benedict sedangkan tabung reaksi berlabel C dan D diisi dengan 2,5 ml larutan amilum 1%. Setelah itu tabung C ditambahkan 1 ml ekstrak usus dan tabung D ditambahkan 1 ml aquadest. Lalu keduanya digoyang selama 10 menit. Kemudian sebanyak lima tetes larutan tabung C dimasukkan ke dalam tabung A dan lima tetes larutan dari tabung D dimasukkan ke dalam tabung B. Setelah itu tabung A dan B dipanaskan di atas bunsen selama 5 menit dan diamati perubahannya.

  • Pembuktian Adanya Enzim Maltase
Empat buah tabung reaksi disiapkan dan diberi label A, B, C, dan D. Dua buah tabung reaksi berlabel A dan B diisi dengan 2 ml reagen Benedict sedangkan tabung reaksi berlabel C dan D diisi dengan 2,5 ml larutan sukrosa. Setelah itu tabung C ditambahkan 1 ml ekstrak usus dan tabung D ditambahkan 1 ml aquadest. Lalu keduanya digoyang selama 10 menit. Kemudian sebanyak lima tetes larutan tabung C dimasukkan ke dalam tabung A dan lima tetes larutan dari tabung D dimasukkan ke dalam tabung B. Setelah itu tabung A dan B dipanaskan di atas bunsen selama 5 menit dan diamati perubahannya.

  • Pembuktian Adanya Enzim Tripsin
Dua buah tabung reaksi diberi label A dan B. Masing-masing tabung diisi dengan 2ml putih telur (albumin) yang telah diencerkan lalu keduanya dipanaskan hingga mendidih dan segera didinginkan. Kemudian ditambahkan 1 ml ekstrak usus ke dalam tabung A dan 1 ml aquadest ke dalam tabung B dan didiamkan selama 10 menit. Setelah itu ditambahkan dua tetes reagen biuret ke dalam tabung A dan tabung B untuk diamati perubahannya.

  • Uji Pengaruh Empedu Terhadap Lemak
Dua buah tabung reaksi diberi label A dan B. Tabung A diisi 2 ml cairan empedu yang diencerkan, sedangkan tabung B diisi 2 ml aquadest. Setelah itu pada setiap tabung ditambahkan 2 ml minyak goreng dan mengocok kedua tabung kuat-kuat. Setelah itu tabung reaksi didiamkan selama 10 menit dan diamati perubahan yang terjadi pada kedua tabung.


PEMBAHASAN
Sistem pencernaan merupakan suatu proses pemecahan senyawa kompleks menjadi suatu molekul yang lebih sederhana. Praktikum sistem pencernaan kali ini lebih menekankan pada analisis enzim pada usus ikan mas (Cyprinus carpio) dimana tujuannya adalah untuk mengetahui macam-macam enzim pencernaan makanan yang terdapat pada usus ikan serta mengetahui fungsi empedu dalam proses pencernaan makanan.
Secara umum, sistem pencernaan dibedakan atas sistem pencernaan intraseluler dan ekstraseluler. Invertebrata pada umumnya memiliki sistem pencernaan yang sangat sederhana, bahkan tidak memiliki organ-organ pencernaan yang spesifik. Misalnya sponge yang mencerna makanannya dengan menggunakan sel kolar. Di dalam sel kolar tersebut terdapat vakuola makanan yang mengandung enzim-enzim pencernaan dan pada akhirnya makanan akan disebarkan ke seluruh tubuh Sponge. Sedangkan pencernaan ekstraseluler merupakan sistem pencernaan yang berlangsung di luar sel dan dilakukan oleh semua vertebrata, termasuk ikan mas (Cyprinus carpio).
Hidayati (2007) mengemukakan bahwa sistem pencernaan vertebrata terdiri dari serangkaian organ yang meliputi saluran pencernaan yang berawal dari mulut dan berakhir di anus serta adanya organ asesoria berupa kelenjar pencernaan yang berupa pankreas dan hati. Sementara itu hal yang paling mendasari perbedaan sistem pencernaan intraseluler dan ekstraseluler adalah bentuk molekul organik yang dicerna. Pada sistem pencernaan intraseluler molekul organik yang dicerna adalah molekul organik kompleks, sedangkan pada sistem pencernaan ekstraseluler molekul organik yang dicerna adalah molekul organik sedrehana.
Telah dikatakan sebelumnya bahwa percobaan ini ditekankan untuk mengetahui analisis enzim pada usus ikan, yaitu ikan mas. Secara umum, proses pencernaan ikan sama dengan vertebrata lainnya. Akan tetapi, ikan memilki beberapa variasi, terutama dalam hubungannya dengan cara memakan. Kebanyakan cara ikan mencari makanan dengan menggunakan mata. Pembauan dan persentuhan digunakan juga untuk mencari makan terutama oleh ikan pemakan dasar dalam perairan yang kekurangan cahaya. Ikan pemakan plankton memiliki mulut relatif kecil dan umumnya tidak dapat dotonjolkan ke luar. Rongga mulut bagian dalam dilengkapi dengan jari-jari tapis insang yang panjang dan lemas untuk menyaring plankton yang dimakan. Mekanisme tersebutlah yang digunakan ikan mas dalam mencari makanannya. Berbeda dengan mamalia, pada ikan pencernaan secara kimiawi dimulai di lambung (untuk ikan karnivora/ herbivora cenderung karnivora) atau di bagian depan usus halus (untuk ikan herbivora/ omnivora cenderung herbivora), bukan di bagian rongga mulut. Hal tersebut dikarenakan ikan tidak memilki kelenjar air liur yang dapat menhhasilkan enzim saliva (Fujaya, 2004).
 Menurut Effendie (2002), ikan mas dapat memakan plankton dan dapat pula memakan invertebrata kecil. Atas dasar inilah maka dapat dikatakan bahwa ikan mas merupakan ikan omnivora dengan sistem pencernaan di antara karnivora dan herbivora. Namun karena ikan mas tidak memilki lambung maka dapat dikatakan bahwa ikan mas merupakan ikan omnivora yang cenderung herbivora. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui hasil praktikum ini yaitu ketika ikan mas dibedah dan diamati organ dalamnya tidak ditemukan adanya lambung, tetapi bagian depan usus halus terlihat membesar dan bagian tersebut lebih dikenal dengan istilah “lambung palsu”. 
Selain adanya “lambung palsu” bukti bahwa ikan mas adalah omnivora cenderung herbivore adalah usus halus memilki panjang yang melebihi panjang baku tubuh ikan. Pada pengukuran yang telah dilakukan diketahui bahwa tubuh ikan mas yang digunakan memiliki panjang baku 19 cm, sedangkan panjang ususnya mencapai 50 cm atau hampir tiga kali lipat dari panjang tubuhnya. Usus yang panjang tersebut bertujuan untuk mendapatkan hasil hidrolisis makromolekul makanan secara maksimal (Fujaya, 2004).

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa pencernaan makanan adalah penyerdehanaan makanan yang pada awalnya berupa molekul komplek menjadi molekul sederhana. Dalam proses pencernaan,komponen makanan berupa protein, lemak, dan karbohidrat harus dipecah menjadi senyawa-senyawa sederhana yang merupakan komponen penyusunnya. Nutrien berbentuk sederhana itulah yang nantinya dapat diserap oleh eritrosit dan diedarkan ke seluruh tubuh yang selanjutnya digunakan untuk mensintesis senyawa baru (anabolisme) atau dioksidasi untuk menghasilkan energi (katabolisme).
Di dalam lambung, protein akan mengalami denaturasi oleh kerja HCl dan dihidrolisis oleh pepsin menjadi peptid. Pencernaan di dalam lambung ini merupakan suatu persiapan untuk pencernaan di dalam usus. Kemudian di dalam usus peptid akan mengalami hidrolisis dimana prosesnya dilakukan oleh enzim karboksipeptidase, tripsin, khimotripsin, elastase sebagai katalisatornya menjadi polipeptid, tripeptid, dan dipeptid. Selanjutnya oligopeptid tersebut akan dihidrolisis oleh enzim peptidase menjadi bentuk tripeptid dan dipeptid hingga akhirnya menjadi asam amino. Fujaya (2004) menjelaskan bahwa pencernaan protein ikan yang tidak berlambung seperti ikan mas terjadi di usus depan dan diperankan oleh enzim protease yang berasal dari pankreas.
Fujaya (2004) mengemukakan bahwa ada dua proses penting dalam pencernaan lemak yaitu emulsifikasi oleh garam empedu dan pencernaan oleh lipase. Emulsifikasi menyebabkan bahan hasil pencernaan berbentuk butiran halus dengan permukaan yang lebih luas sehingga memaksimalkan aktivitas enzim. Meskipun intensitasnya rendah, pencernaan lemak dimulai di lambung dan akan dicerna secara intensif di bagian usus. Hidrolisis lemak oleh lipase akan menghasilkan monogliserid dan asam lemak yang berukuran kecil dan disebut micel. Partikel lemak dalam bentuk micel inilah yang siap diserap oleh dinding usus (enterosit).
Pencernaan karbohidrat yaitu pati dan glikogen dimulai oleh amilase saliva di dalam rongga mulut dan terus berlanjut di dalam usus halus. Amilase pankreas menghidrolisis pati , glikogen, dan polisakarida yang lebih kecil menjdi disakarida, termasuk maltosa. Enzim maltase akan menyempurnakan dan menyelesaikan pencernaan maltosa dan memecahnya menjadi dua molekul glukosa (galaktosa) yang merupakan gula sederhana. Selain maltase, pada usus halus terdapat pula enzim disakaridase lainnya yaitu laktose dan sukrose. Laktose akan menghidrolisis laktosa (gula susu) menjadi glukosa, sedangkan sukrose/sukrase/invertase akan menghidrolisis sukrosa menjadi fruktosa. Menurut Campbell (2004), disakaridase tersebut dibuat dan berada dalam membran dan matriks ekstraseluler yang menutupi epitelium usus halus. Pengkondisian tersebut dikarenakan membran dan matriks ekstraseluler usus halus adalah tempat penyerapan gula.


Pembuatan Ekstrak Usus
            Bahan utama pembuatan ekstrak usus adalah usus ikan dimana pada praktikum ini digunakan usus ikan mas (Cyprinus carpio). Langkah pertama yang dilakukan adalah membedah ikan mas yang telah dibeli sebelumnya pada bagian ventral di atas alas lilin. Pembedahan di bagian ventral dimaksudkan untuk menghindari rusak atau terputusnya usus ikan akibat pembedahan.

Setelah itu, usus halus diambil dengan cara memotong atau memisahkannya dari bagian akhir lambung dan bagian awal usus besar. Hal ini dikarenakan usus halus terletak diantara lambung dan usus besar. Namun, karena ikan mas hanya memiliki lambung palsu, pemotongan usus halus dilakukan dari bagian akhir pilorus dan bagian awal usus besar. Setelah usus terpisah dari organ-organ lainnya. Usus dicuci dengan menggunakan aquades. Kemudian diletakkan di dalam cawan Petri berisi 20 ml gliserin 50% untuk dicacah. Pencacahan usus halus ini bertujuan untuk mengeluarkan enzim-enzim pencernaan yang ada di dalamnya sehingga memudahkan proses pengujian selanjutnya. Pemakaian gliserin sendiri dimaksudkan untuk membantu proses peluruhan enzim pencernaan yang ada di usus halus.
Usus halus yang telah terpotong-potong (tercacah) kecil selanjutnya ditambahkan lima tetes toluen sembari dicacah hingga halus. Setelah benar-benar halus, usus dimasukkan ke dalam botol fial/botol film gelap (seluruh permukaannya tertutup lakban hitam) dan disimpan selama satu minggu (6-7 hari). Waktu satu minggu ini adalah waktu yang optimum bagi gliserin untuk meluruhkan enzim pencernaan pada usus halus. Pada saat inilah toluen memainkan perannya yaitu sebagai pengawet yang menjaga enzim dari kerusakan atau membusuk selama penyimpanan.
Satu minggu kemudian (hari H praktikum) ekstrak usus halus yang telah dibuat disaring dengan menggunakan kertas saring dan dilakukan pengujian untuk membuktikan bahwa pada usus halus terdapat enzim amilase, maltase, dan tripsin.

Pembuktian Adanya Enzim Amilase
Untuk membuktikan keberadaan enzim amilase pada usus ikan ini digunakan empat buah tabung reaksi dimana setiap tabung diberi label A, B, C, dan D. Pemberian label tersebut dilakukan untuk memudahkan pengamatan yang akan dilakukan suapaya tidak tertukar dengan hasil pengamatan uji yang lain.
Tabung reaksi A dan B diisi dengan 2 ml reagen Benedict. Alasan pemakaian reagen Benedict adalah reagen ini merupakan reagen yang digunakan pada setiap uji biokimia untuk mendeteksi gula pereduksi dalam suatu larutan. Pada pengujian kali ini gula pereduksi tersebut adalah hasil dari hidrolisis enzim amilase. Jadi jika hasilnya positif maka dapat dikatakan bahwa larutan (ekstrak usus) mengandung enzim amilase.
Sementara itu dua buah tabung lainnya, yaitu tabung C dan tabung D diisi dengan 2,5 ml larutan amilum 1%. Amilum merupakan polisakarida (karbohidrat) yang merupakan target dari enzim amilase. Kemuadian pada tabung C ditambahkan 1 ml ekstrak usus dan tabung D ditambahkan 1 ml aquadest. Pada pengujian ini tabung D merupakan kontrol atau pembanding pengamatan. Setelah penambahan ekstrak usus dan aquadest, kedua tabung (C dan D) digoyang-goyangkan secara perlahan selama 10 menit. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghomogenkan larutan yang ada di dalamnya. Setelah 10 menit, lima tetes larutan dari tabung C dimasukkan ke dalam tabung A dan lima tetes larutan dari tabung D dimasukkan ke dalam tabung B. Perlakuan inilah yang dinamakan uji Benedict. Setelah itu tabung A dan B dipanaskan di atas api Bunsen selama 5 menit. Pemanasan ini dilakukan untuk mempercepat proses hidrolisis enzim amilase terhadap amilum karena semakin tinggi suhu semakin cepat kerja enzim.
Dari pengamatan yang telah dilakukan diperoleh hasil berupa perubahan warna pada larutan, baik pada tabung A maupun pada tabung B. Pada awalnya, kedua tabung berisi larutan yang berwarna biru (warna Benedict), tetapi tiga menit setelah pemanasan larutan di dalam tabung A berubah warna menjadi hijau tua dimana semakin lama pemanasan terlihat adanya gradasi warna yaitu sedikit warna kuning di permukaannya, kemudian hijau muda dan didominasi oleh warna hijau tua. 

Pada akhirnya terbentuk sedikit endapan berwarna orange di dasar tabung. Endapan tersebut diindikasikan sebagai hasil positif keberadaan enzim amilase pada usus halus ikan mas (Cyprinus carpio).

Anonim (2007) mengemukakan bahwa gula reduksi dengan larutan Benedict (campuran garam Kupri Sulfat, Natrium Sitrat, Natrium Karbonat) akan membentuk reaksi reduksi oksidasi dan dihasilkan endapan berwarna merah dari kupro oksida. Karena hasil percobaan ini membentuk endapan yang berwarna orange maka diindikasikan pula ada beberapa factor yang mempengaruhi hasil pengamatan. Factor utama adalah kekeliuran prosedur dimana seharusnya botol fial/film gelap berisi ekstrak usus diletakkan di tempat gelap pula seperti laci meja atau kolong tempat tidur, karena tempat gelap dapat memaksimalkan peluruhan enzim oleh gliserin, sedangkan pada praktikum ini sendiri botol fial tersebut hanya diletakkan di atas rak laboratorium diantara botol-botol lainnya. Indikasi kedua adalah kurang tingginya suhu saat pemanasan sehingga mengurangi aktivitas kerja enzim. Akan tetapi, percobaan ini tetap diasumsikan berhasil dan dinyatakan usus halus ikan positif mengandung enzim amilase.

Pembuktian Adanya Enzim Maltase
Jika pati dihidrolisis dengan enzim amilase akan dihasilkan maltosa dan maltosa akan dihidrolisis oleh enzim maltase menjadi galaktosa. Untuk membuktikan keberadaan enzim maltase tersebut dilakukan pengujian yang prosedurnya sama dengan proses pengujian keberadaan enzim amilase.
Hal yang dilakukan pertama kali adalah t abung reaksi A dan B diisi dengan 2 ml reagen Benedict. Sementara itu dua buah tabung lainnya, yaitu tabung C dan tabung D diisi dengan 2,5 ml larutan sukrosa 1%. Sukrosa adalah salah satu disakarida yang nantinya akan dihidrolisis oleh enzim maltase. Kemuadian pada tabung C ditambahkan 1 ml ekstrak usus dan tabung D ditambahkan 1 ml aquadest.
Pada pengujian ini tabung D merupakan kontrol atau pembanding pengamatan. Setelah penambahan ekstrak usus dan aquadest, kedua tabung (C dan D) digoyang-goyangkan secara perlahan selama 10 menit. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghomogenkan larutan yang ada di dalamnya. Setelah 10 menit, lima tetes larutan dari tabung C dimasukkan ke dalam tabung A dan lima tetes larutan dari tabung D dimasukkan ke dalam tabung B. Kemudian, sama seperti perlakuan di uji enzim amilase kedua tabung (tabung A dan B) dipanasakan di atas bunsen dengan maksud mempercepat reaksi antara sukrosa dan enzim yang diindikasikan berada di ekstrak usus halus, yaitu enzim maltase.
Dari pengamatan yang telah dilakukan diperoleh hasil berupa perubahan warna pada larutan, baik pada tabung A maupun pada tabung B. Pada awalnya, kedua tabung berisi larutan yang berwarna biru (warna Benedict), tetapi beberapa menit setelah pemanasan, larutan di dalam tabung A berubah warna menjadi hijau  yang pada akhirnya terbentuk sedikit endapan berwarna orange di dasar tabung. Endapan tersebut diindikasikan sebagai hasil positif keberadaan enzim maltase pada usus halus ikan mas (Cyprinus carpio). Akan tetapi, sama seperti hasil pengamatan pembuktian enzim amilase hasil pengamatan pada pengujian ini bukanlah hasil maksimal dari suatu uji Benedict karena seharusnya warna endapan adalah merah bata. Walaupun begitu dapat dipastikan bahwa usus halus ikan mas mengandung enzim maltase.
Pembuktian Adanya Enzim Tripsin
Tripsin merupakan salah satu protease atau enzim yang menghidrolisis protein. Menurut Winarno (1995) tripsin lebih banyak digunakan dalam bidang bidang kedokteran daripada industri makanan. Tripsin merupakan endopeptidase yang bentuk inaktifnya disebut tripsinogen. Tripsin bekerja optimum pada pH asam / 1,8 (1,2 - 2).
Pembuktian adanya enzim tripsin pada usus halus ikan mas ini diawali dengan menyiapkan putih telur atau albumin yang telah diencerkan dengan aquadest. Setelah itu putih telur dimasukkan ke dalam dua buah tabung reaksi dimana setiap tabung reaksi diisi 1 ml putih telur. Kemudian kedua tabung reaksi dipanaskan di atas api bunsen. Tujuan pengenceran putih telur tadi akan terlihat pada saat pemanasan. Putih telur yang terlalu kental akan memadat dan mengendap di dasar tabung dengan warna orange kecoklatan. Jika hal itu terjadi maka proses hidrolisis albumin (putih telur) oleh enzim tripsin yang diindikasikan terkandung dalam usus ikan mas akan berjalan sangat lama atau bahkan tidak berhasil. Karena itulah dilakukan pengenceran dengan menggunakan aquadest. Penggunaan aquades sendiri dimaksudkan untuk meminimalkan terjadinya kontaminasi pada putih telur sehingga tidak mengganggu proses hidrolisis protein oleh tripsin.

Setelah itu salah satu tabung ditambahkan 1 ml ekstrak usus halus sedangkan tabung reaksi yang lain ditambahkan 1 ml aquadest. Tabung reaksi yang ditambahkan aquadest ini digunakan sebagai kontrol perlakuan. Setelah didiamkan selama sepuluh menit masing-masing tabung reaksi ditetesi 2-4 tetes reagen biuret. Pengamatan yang didapat adalah terbentuknya cincin ungu pada permukaan atas tabung reaksi (lihat gambar 4.2.) yang ditambahkan ekstrak usus halus, sedangkan tabung reaksi yang berperan sebagai kontrol tidak mengalami perubahan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada usus ikan mas terdapat pula enzim tripsin yang berperan penting dalam memotong polipeptida protein menjadi ikatan-ikatan protein yang lebih kecil.
 Pengaruh Empedu Terhadap Lemak
Hampir semua lemak dalam suatu hidangan mencapai usus halus dalam kondisi belum tercerna sepenuhnya. Hal ini merupakan masalah bagi sistem pencernaan karena molekul lemak tidak larut dalam air. Akan tetapi, karena adanya garam-garam empedu yang berasal dari kantung empedu, lemak dapat dihidrolisis oleh lipase dengan segera sehingga dapat diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh. Kenyataan tersebut merupakan bukti bahwa empedu memilki peranan penting paad sistem pencernaan, khususnya pencernaan lemak (Campbell, 2004).
Untuk mengetahui pengaruh penting empedu terhadap lemak dilakukanlah pengujian ini dimana empedu yang digunakan adalah empedu ayam. Alasannya adalah empedu ayam mudah di dapat tanpa harus memotong ayam sendiri karena di pasar-pasar tradisional empedu ayam adalah sampah buangan yang tidak dipakai. Dengan begitu tidak menyulitkan pengamat/praktikan ataupun merugikan pedagang. Setelah empedu mendapatkan empedu, isi dari empedu tersebut dikeluarkan dengan cara menggunting permukaannya dan menuangkan isinya ke dalam tabung reaksi atau mortar.
Setelah itu, cairan empedu yang berwarna hijau dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 ml dan kemudian ditambahkan 1 ml aquadest sebagai pengencer sehingga didapatkan larutan empedu sebanyak 2 ml pada tabung reaksi tersebut (tabung A). Sementara itu, dimasukkan 2 ml aquades ke dalam tabung reaksi lain (tabung B) dimana tabung ini digunakan sebagai kontrol pengamatan. Selanjutnya masing-masing tabung ditambahkan 2 ml minyak goreng yang dianggap sebagai sumber lemak pada praktikum ini.
Kedua tabung tersebut kemudian dikocok dengan kuat dengan maksud menghomogenkan larutan yang ada di dalamnya karena sebelum pengocokan larutan di semua tabung reaksi membentuk dua buah lapisan. Pada tabung A lapisan atas adalah minyak dan lapisan bawah adalah cairan empedu, sedangkan pada botol B lapisan atas adalah minyak dan lapisan bawah adalah aquadest.
Hasil yang terlihat setelah pengocokan adalah isi dari tabung A tidak lagi membentuk dua lapisan, tetapi membentuk kompleks larutan dimana minyak tercampur oleh empedu. Sedangkan pada tabung tidak terjadi perubahan apapun. Akan tetapi, meskipun isi tabung A terlihat menyatu atau seperti larutan sebenarnya isi dari tabung A bukanlah suatu larutan, melainkan hanya sebuah emulsi lemak yang prosesnya dinamakan emulsifikasi.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa emulsifikasi ini merupakan proses pelapisan lemak untuk memperkecil ukuran lemak sehingga memiliki luas permukaan yang lebih besar. Dengan luas permukaan yang lebih besar ini enzim lipase akan lebih mudah menghidrolisis lemak dan lemak dapat dengan mudah diedarkan ke seluruh tubuh. Pada percobaan ini pelapis lemak adalah cairan empedu ayam sehingga dapat dikatakan bahwa cairan empedu adalah emulgator dan lebih lanjut lagi dapt dikatakan bahwa empedu berfungsi untuk membantu penyerapan lemak.
KESIMPULAN

Setelah melakukan pengamatan dan menganalisis hasil pengamatan maka dapat disimpulkan bahwa pada usus ikan mas (Cyprinus carpio) terdapat enzim amilase, enzim maltase dan enzim tripsin. Enzim amilase dan enzim maltase diuji dengan reagen Benedict dengan hasil positif berupa terbentuknya sedikit endapan orange pada permukaan bawah tabung reaksi, sedangkan enzim tripsin diuji dengan reagen Biuret dimana hasil positifnya ditunjukkan dengan terbentuknya cincin ungu pada permukaan atas larutan. Sementara itu melalui uji pengaruh empedu terhadap lemak dapat disimpulkan bahwa empedu memilki fungsi untuk membantu penyerapan lemak oleh usus melalui proses yang dinamakan emulsifikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Petunjuk Praktikum Biokimia TA. Laboratorium Biologi Universitas Trunojoyo
Campbell. 2004. Biologi Jilid 3, Edisi Ke 5. Erlangga : Jakarta.
Effendie. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama : Yogyakarta
Fujaya, Yushinta. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Rineka Cipta : Jakarta
Guyton & Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Hidayati, Dewi. 2007. Modul Fisiologi Hewan. Program Studi Biologi ITS, FMIPA : Surabaya.
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Vertebrata. Sinar Wijaya : Surabaya
Poedjiadi, A., dan Supriyanti, F.M. 2007. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press : Jakarta
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta
Van De Graf, Kent, M. 1994. Atlas of Fisiology. Penerbit McGraw Hill : USA
Winarno, F.G. 1995. Enzim Pangan. PT. Gramedia pustaka Utama : Jakarta

Wednesday, May 05, 2010

Cerita Singkat Pembungaan Dan Pematangan Buah

Proses pembungaan mengandung sejumlah tahap penting bagi tumbuhan Angiospermae dimana semuanya harus berhasil dilangsungkan untuk memperoleh hasil akhir yaitu biji. Masing-masing tahap tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal yang berbeda. 

Secara umum, tahap pembungaan meliputi :


1. Induksi bunga (evokasi)
  • Merupakan tahap pertama dari proses pembungaan, yaitu suatu tahap ketika meristem vegetatif diprogram untuk mulai berubah menjadi meristem reproduktif.
  • Terjadi di dalam sel.
  • Dapat dideteksi secara kimiawi dari peningkatan sintesis asam nukleat dan protein, yang dibutuhkan dalam pembelahan dan diferensiasi sel.
2. Inisiasi bunga
  • Tahap ketika perubahan morfologis menjadi bentuk kuncup reproduktif mulai dapat terdeteksi secara makroskopis untuk pertama kalinya.
  • Masa Transisi dari tunas vegetatif menjadi kuncup reproduktif ini dapat dideteksi dari perubahan bentuk maupun ukuran kuncup, serta proses-proses selanjutnya yang mulai membentuk organ-organ reproduktif.
3. Perkembangan kuncup bunga menuju anthesis (bunga mekar)
  • Ditandai dengan terjadinya diferensiasi bagian-bagian bunga.
  • Pada tahap ini terjadi proses megasporogenesis dan mikrosporogenesis untuk penyempurnaan dan pematangan organ-organ reproduksi jantan dan betina.
4. Anthesis
  • Merupakan tahap ketika terjadi pemekaran bunga.
  •  Biasanya anthesis terjadi bersamaan dengan masaknya organ reproduksi jantan dan betina, walaupun dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Ada kalanya organ reproduksi, baik jantan maupun betina, masak sebelum terjadi anthesis, atau bahkan jauh setelah terjadinya anthesis.
  • Bunga-bunga bertipe dichogamy mencapai kemasakan organ reproduktif jantan dan betinanya dalam waktu yang tidak bersamaan.
5. Penyerbukan dan pembuahan
  • Tahap ini memberikan hasil terbentuknya buah .
6. Perkembangan menuju kemasakan buah dan biji
  • Tahap ini diawali dengan pembesaran bakal buah (ovarium), yang diikuti oleh perkembangan cadangan makanan (endosperm), dan selanjutnya terjadi perkembangan embryo.

Pembesaran buah merupakan efek dari pembelahan dan pembesaran sel, yang meliputi tiga tahap:
A. Tahap pertama
  • Terjadi peningkatan penebalan pada pericarp oleh adanya pembelahan sel.
B. Tahap kedua
  • Terjadi pembentukan dan pembesaran vesikel berair (juice vesicle); biasanya terjadi pada buah-buah fleshy
C. Tahap ketiga
  • Tahap pematangan, biasanya terjadi pengkerutan jaringan dan pengerasan endocarpium pada buah kering
  • Selama tahap-tahap ini terjadi pula akumulasi air dan gula, hingga pada tahap ketiga buah telah mengandung 80-90% air dan 2-10-20% gula.

Tuesday, April 06, 2010

EMBRIO-ZIGOT

Zigot adalah sel tunggal diploid yang pada umumnya pembelahan pertamanya adalah secara transversal menghasilkan sel apikal (sel terminal) yang terletak jauh dari mikropil dan sel basal (sel bawah) yang terletak dekat dengan mikropil.

Berdasarkan pembelahan sel apikal proembrio dua sel, peranan sel basal dan sel apikal dalam pembentukan embrio selanjutnya, terdapat lima tipe perkembangan embrio pada tanaman dikotil, yaitu:

  1. Sel apikal membelah secara longitudinal
  1. Tipe Cruciferae : sel basal berperan sedikit saja atau tidak sama sekali dalam perkembangan embrio.
  2. Tipe Asteraceae : sel basal dan sel apikal keduanya berperan dalam perkembangan embrio

  1. Sel apikal membelah secara transversal
  1. Tipe Solanaceae : sel basal berperan sedikit saja atau tidak sama sekali  dalam perkembangan embrio. Sel basal biasanya membentuk susupensor dari dua atau lebih sel.
  2. Tipe Caryophyllaceae : sel basal berperan sedikit saja atau tidak sama sekali dalam perkembangan embrio. Sel basal tidak mengalami pembelahan sama sekali. Suspensor jika ada selalu dibentuk oleh sel apikal
Tipe Chenopodiaceae : sel basal dan sel apikal keduanya berperan dalam perkembangan embrio