Pages

Wednesday, November 17, 2010

Kultur Jaringan Jati

Jati (Tectona grandis L.f.) terkenal sebagai kayu komersil bermutu tinggi dan  termasuk dalam famili Verbenaceae. Penyebaran alami tumbuhan ini meliputi negara - negara India, Birma, Kamboja, dan Thailand. Di Indonesia jati merupakan tumbuhan eksotik yang dikembangkan untuk berbagai kebutuhan diantaranya untuk bahan bangunan seperti kusen, pintu, jendela, flooring, dll, juga sebagai bahan baku furniture seperti meja, kursi, lemari, perabor rumah tangga, dll. Penyebaran jati di Indonesia seperti di Jawa, Muna, Buton, Maluku dan Nusa Tenggara. Pohon Jati cocok tumbuh di daerah musim kering agak panjang yaitu berkisar 3-6 bulan pertahun. Besarnya curah hujan yang dibutuhkan rata-rata 1250-1300 mm/tahun dengan temperatur rata-rata tahunan 22°-26° C. Daerah-daerah yang banyak ditumbuhi jati umumnya tanah bertekstur sedang dengan pH netral hingga asam (Irwanto, 2006).
Budi daya hutan jati akan membantu mengatasi masalah kekurangan pasokan kayu jati ke pasaran baik di dalam maupun  luar negeri di masa yang  akan datang.  Pada saat  ini pasokan kayu  jati lokal  diperkirakan  hanya  mampu  memenuhi  kurang  dari  30%  jumlah  permintaan  yang  ada.  Situasi  ini menyebabkan  harga  kayu  jati  terus meningkat  dari  tahun  ke  tahun. Di  lain  pihak  permintaan  ekspor  atas produk  hasil  olahan  kayu  dan mebel meningkat  tajam,  yang  akhirnya memperbesar jurang antara jumlah pasokan dan  permintaan (Irwanto, 2006).
Saat ini, telah tersedia dan dikembangkan tanaman jati unggul yang memiliki siklus umur panen relatif pendek (fast growing teak) yang berasal dari pohon induk terpilih. Namun, untuk menyediakan tanaman jati unggul dalam jumlah banyak sulit dilakukan hanya melalui perbanyakan konvensional (stek atau sambungan) saja. Oleh karena itu, saat ini banyak digunakan perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan.  Bahkan kombinasi antara teknik kultur jaringan yang menyediakan materi vegetatif yang bersifat juvenil dengan teknik stek pucuk untuk perbanyakan skala masal merupakan solusi terbaik dalam mendapatkan bibit unggul jati yang seragam, dengan biaya lebih murah, dan dalam waktu lebih singkat.
Selama pelaksanaan proses kultur, banyak sekali masalah yang muncul sebagai pengganggu atau bahkan menjadi penyebab tidak tercapainya  tujuan kegiatan kultur  yang dilakukan. Salah satu gangguan yang sering terjadi dalam pelaksanaan kultur jaringan biasanya berasal dari individu tumbuhan atau eksplan yang digunakan. Misalnya, tumbuhan berasal dari alam/lapangan, kondisi tumbuhan yang terserang penyakit, dan bahan yang tersedia terbatas (Darmono, 2003).  
Tumbuhan yang berasal dari lapangan sudah pasti mengandung debu, kotoran, dan berbagai kontaminan hidup pada permukaannya atau bahkan pada bagian internal. Kontaminan yang berasal dari lingkungan tersebut bisa mengakibatkan tumbuhan terserang penyakit. Kondisi tumbuhan yang terserang penyakit atau terkontaminasi mikroorganisme baik eksternal (permukaan) maupun internal (bagian dalam jaringan), relatif sulit dikulturkan. Kesulitan perbanyakan tumbuhan yang terkontaminasi mikroorganisme dengan kultur  jaringan, yaitu bagaimana mematikan atau menghilangkan mikroorganisme dengan bahan sterilan tanpa mematikan tumbuhan (eksplan) (Santoso dan Nursandi 2002).
Menurut Gunawan (1987) bahan-bahan sterilisasi yang biasa digunakan umumnya bersifat toksik terhadap jaringan. Permasalahan lain yang sering terjadi pada kegiatan  kultur jaringan adalah peristiwa  browning (pencoklatan). Sandra (2003) mengemukakan bahwa setiap tumbuhan  akan mengeluarkan larutan fenol yang akan bereaksi dengan udara (oksigen) sehingga menghasilkan larutan berwarna coklat yang disebut  quinon. Larutan yang berwarna coklat tersebut jika terakumulasi pada media akan meracuni eksplan.
Menurut Sandra dan Medi (2002), sterilisasi merupakan permasalahan utama yang menentukan keberhasilan kultur jaringan, terutama sterilisasi eksplan yang berasal dari luar. Jika sterilisasi gagal maka kegiatan selanjutnya tidak bermanfaat. Zulkarnain (2009), mengemukakan bahwa sterilisasi pada eksplan dapat dilakukan dengan merendam eksplan dalam suatu larutan kimia tertentu dengan waktu yang berbeda-beda antar jenis eksplan dan sterilan yang digunakan.

 Daftar Pustaka
  • Darmono, D. W. 2003. Menghasilkan Anggrek Silangan. Jakarta: Penebar Swadaya
  • Gunawan, L. W. 1987. Teknik Kultur Jaringan. Bogor: Laboratorium Kultur
  • Jaringan Tanaman Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB –
  • Lembaga Sumberdaya Informasi IPB.
  • Irwanto. 2006. Usaha Pengembangan Jati (Tectona grandis L.f). http : // www.irwantoshut.com. Diakses pada tanggal 14 Februari 2010 Pukul 18.30 WIB
  • Sandra dan Medi . 2002. Membuat Anggrek Rajin Berbunga. Jakarta: AgroMedia
  • Pustaka. Jakarta.
  • Sandra, E. 2003. Kultur Jaringan Anggrek Skala Rumah Tangga. Jakarta: AgroMedia Pustaka.

Variasi Genetik Dalam Populasi

Within – Population Variation, Contohnya :
• Sexual dimorphisme; sehingga menyebabkan adanya perbedaan jenis kelamin pada suatu populasi baik populasi hewan, tumbuhan, ataupun manusia (Sidharta, 1995).
• Individu jantan dan betina pada populasi kupu-kupu ‘semanggi’ memiliki variasi warna. Kupu-kupu jantan selalu berwarna kuning, sedangkan kupu-kupu betina dapat berwarna kuning atau putih.
• Perbedaan golongan darah seseorang. Misalnya : 1000 orang mahasiswa Biologi ITS diperiksa golongan darahnya menurut sisten ABO dan didapatkan hasil golongan A 320 orang, B 150 orang, AB 40 orang, dan O 490 orang
(Suryo, 2005).
• Limpets memiliki tekstur cangkang yang berbeda – beda sesuai ukurannya dimana semakin besar ukuran Limpets senakin kasar tekstur cangkangnya.
• Adanya variasi warna pada populasi Sand dollars (coklat tua, coklat muda, putih, atau abu-abu).
• Sekelompok orang di suatu perkampungan memiliki variasi usia, mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa.
• Variasi mating (cara kawin) pada spesies-spesies jantan Ungulates. Misalnya : 1) Jantan pada populasi Ovis canadensis memiliki taktik/cara mating dengan merawat betinanya, memberi batas teritori, atau mengejar individu betina, 2) strategi mating pada populasi Damaliscus lunatus adalah mengikuti kemanapun perginya betina, membentuk wilayah teritori, atau memberikan tanda artifisial di wilayahnya (Isvaran, 2005).

Between – Population Variation, Contohnya :
• Adanya variasi proses penyerbukan pada populasi Plantago maritima di Amerika dengan populasi di Eropa dimana Plantago maritima di wilayah Amerika bersifat self - fertile (menyerbuk sendiri), sedangkan populasi Plantago maritima di Eropa bersifat self – sterile.
• Populasi Microctonus aethiopoides di Eropa bersifat parasit bagi Sitona lepidus, sedangkan di New Zealand M.aethiopoides tidak berpengaruh bagi eksisnya Sitona lepidus. Hal tersebut dikarenakan adanya variasi allozyme antara populasi di Eropa dan New Zealand (Iline, 2003).
• Ukuran tubuh maksimum komodo di pulau Komodo dan Rinca 15% lebih besar dibandingkan ukuran tubuh maksimum komodo di pulau Gili Montang dan Nusa Kode dimana variasi tersebut dipengaruhi oleh sumber daya alam di masing-masing pulau (Jessop, 2005).
• Pada umumnya tanaman Pterocarpus indicus di dataran tinggi (Yogyakarta) memiliki warna daun yang berbeda dengan Pterocarpus indicus di dataran rendah (Jakarta). Daun Pterocarpus indicus di dataran tinggi berwarna hijau tua dan cerah, sedangkan di dataran rendah berwarna hijau, hijau kekuningan, atau kuning. Selain karena faktor lingkungan yang berbeda, variasi warna daun di kedua populasi tersebut juga disebabkan adanya perbedaan gen pembentuk klorofil. Y3 merupakan gen dominan yang menyebabkan munculnya zat hijau daun, sedangkan gen y3 merupakan gen resesif terhadap penampakan zat hijau daun. Tanaman yang kekurangan klorofil (daunnya berwarna hijau kekuningan atau kuning) dijumpai pada tanaman yang mempunyai sifat homozigot resesif /y3y3 (Welsh, 1991).

Daftar Pustaka

  • Iline, I., dan Philips, C. 2003. Allozyme Variation Between Europen and New Zealand population of Microctonus aethiopoides. New Zealand Plant Protection. 56 : 133 – 137.
  • Isvaran, Kavita. 2005. Variation in Male Mating Behaviour Within Ungulate Populations : Patterns and Processes. Current Science. 89 (7).
  • Jessop, S., dkk. 2005. Ukuran Tubuh Maksimum Antar Populasi – Terbatas – Pulau Biawak Komodo dan Keterikatannya Dengan Kepadatan Mangsa Besar. Taman Nasional Komodo, Zoological Society of San Diego, The Nature Conservancy.
  • Suryo. 2005. Genetika Strata 1. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
  • Welsh, James., dan Mogea, Johanis. 1991. Dasar-Dasar Genetika Dan Pemuliaan Tanaman. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Saturday, November 13, 2010

Vigna angularis

 
Kacang merah berasal dari daerah neotropical dengan sedikitnya dua pusat domestikasi: Amerika Tengah (Mexico, Guatemala) untuk yang berbiji kecil dan Amerika Selatan (sebagian besar Negara Peru) untuk yang berbiji besar. Di waktu post-Columbian, kacang merah tersebar di seluruh Amerika. Orang-orang Spanyol membawa benih ke seberang Pasifik menuju Filipina dan dari sana ke Asia, terutama Jawa dan Myanmar, dan ke Mauritius (McMahon, 2007).
Kacang merah akan berbunga pada panjang hari 9-18 jam dan untuk tipe berhari pendek memerlukan panjang hari terendah antara 11-12.3 jam untuk inisiasi bunga. Temperatur optimum antara 16 hingga 27 ° C. Curah hujan normal tahunan adalah 900-1500 mm tetapi dapat toleran dengan sedikitnya 500-600 mm dalam satu musim penanaman. Kacang ini tumbuh di dataran rendah tropis dan area subtropis tetapi dapat tumbuh hingga ketinggian 2000-2500 m. Kacang merah menyukai lahan beraerasi dan berdrainase baik dengan pH 6.0-6.8. Beberapa kultivar tahan terhadap lahan asam dengan pH serendah-rendahnya 4,4 (Van Steenis, 2004).
Perbanyakan kacang merah adalah dengan biji. Di daerah tropika, kacang jawa ditanam di kebun rumah, atau tumpangsari dengan sereal (jagung, gandum), akar dan umbi akar ( ubi rambat, singkong) atau tanaman lain (mis.kapas, tebu). Penanaman tunggal lebih sering dilakukan di negara Amerika Serikat, Madagaskar dan Peru (McMahon, 2007).

Taksonomi Tumbuhan 
Menurut Tjitrosoepomo (2005) klasifikasi kacang merah adalah sebagai berikut :
Regnum            : Plantae
Divisio              : Spermatophyta
Classis              : Dicotyledoneae
Ordo                : Fabales
Familia              : Fabaceae
Genus               : Vigna
Spesies             : Vigna angularis


 Daftar Pustaka

McMahon, Margaret, et. all. 2007. Hartmann’s Plant Science-Growth, Development, and Utilization of Cultivated Plants. Pearson Prentice Hall : New Jersey.
Tjitrosoepomo, G. 2005. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Van Steenis. 2004. Flora Untuk Sekolah di Indonesia. Jakarta : Pradnya Paramita.

Designing The Landscape
Salah satu cara untuk memerangi pemanasan global adalah dengan menciptakan lingkungan hijau. Keterbatasan lahan bukanlah halangan untuk menciptakan lingkungan hijau tersebut. Ahli dalam bidang landscape (seni pertamanan) dan gardening (berkebun) banyak membantu terciptanya konsep taman yang indah dan asri di lingkungan rumah, hotel, real estate, villa, kantor, bahkan shopping centre ataupun area lain sehingga tercipta lingkungan hijau yang tidak hanya berpotensi mengurangi pemanasan global, tetapi juga memiliki nilai estetika yang tinggi.
Pekerjaan merancang/mendesain adalah membuat pola, skema, rencana, mengatur, menata, dan mengorganisasi. Sejarah desain dimulai sejak manusia membutuhkan sesuatu untuk keamanan, kesenangan dan kepuasan. Perkembangan sosial budaya, ekonomi, dan IPTEK menyebabkan produk desain menjadi lebih kompleks disesuaikan dengan fungsi dan kepentingan masing-masing. Mendesain atau merancang lanskap bukan pekerjaan sederhana dan mudah, namun memerlukan pemikiran dan perasaan yang tepat. Ada tiga area utama yang perlu didesain secara apik; yaitu public area, outdoor living area, dan service area (Anonim, 2010).
Public Area
Contoh public area misalnya adalah pusat perbelanjaan (mall), pasar, dan taman kota, atau halaman rumah. Untuk mendesain tempat-tempat tersebut perlu diperhatikan beberapa hal yaitu :
1.      Semua benda yang ada harus dapat dilihat oleh masyarakat
2.      Pada halaman rumah misalnya, landscape yang indah merupakan kesan pertama terhadap rumah tersebut 
3.      Titik yang paling penting pada area ini adalah pintu masuk dimana setiap orang yang akan memasuki rumah atau tempat yang dimaksud selalu melewati pintu dan memperhatikan keadaan di depan pintu tersebut sehingga sangat penting mendesain pintu masuk seapik mungkin. Jika hendak meletakkan suatu tanaman maka peletakannya adalah di sisi pintu dimana tingginya ⅔ dari tanah ke atap. Karena itu seringkali digunakan tanaman bonsai.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa merancang atau mendesain landscape bukanlah perkara yang mudah dan untuk mendesain public area, khususnya halaman depan rumah, harus memperhatikan tiga hal, yaitu :
1.      Mengurangi garis arsitektur pada rumah dimana hal ini dimaksudkan untuk membuat rumah terasa lebih nyaman dilihat dan tidak terlalu formal. Sebagai contohnya adalah bangunan tua yang sudah tidak sesuai dengan karakter lingkungan saat ini dapat diubah dengan menambahkan ornamen-ornamen seperti bebatuan atau air sehingga penampilan, bentuk, dan fungsinya sesuai dengan lingkungan
2.      Menanam pepohonan di tepi-tepi halaman dengan arti membingkai rumah dengan pohon
3.      Memelihara halaman rumput yang terbuka dengan memangkas rumput tersebut secara teratur
Hal yang diperhatikan pada perancangan public area adalah tempat pejalan kaki (trotoar) dan driveways. Trotoar biasanya dibuat untuk menunjukkan pintu masuk oleh karena itu harus dapat digunakan oleh dua orang yang saling bersisihan. Sedangkan untuk jalanan pengemudi lebarnya diharuskan berukuran 10-18 langkah kaki dimana 10 langkah kaki merupakan lebar minimum untuk sebuah mobil.
Penggunaan pohon pada setiap desain landscape bukanlah tanpa alasan. Pohon-pohon tersebut memiliki fungsi pada setiap desain landscape yaitu untuk :
1.      Pembeda antara dinding dengan halaman sehingga terlihat kontras. Kontras merupakan salah satu dari prinsip desain dimana kontras memimbulkan daya tarik atau puncak perhatian seseorang.
2.      Besaran atau patokan langit-langit yang menjulang
3.      Sebagai penunjuk arah atau patokan suatu tempat
Selain pohon, semak-semak merupakan salah satu objek yang perlu didesain. Dari segi arsitektur, tanaman semak berfungsi untuk memperhalus garis vertikal rumah serta menutupi pondasi rumah tersebut. Kebanyakan orang yang memiliki halaman rumah luas selalu memangkas tanaman semaknya dengan bentuk yang tidak wajar seperti bentuk bulat atau binatang. Secara estetika hal tersebut memang terlihat unik, tetapi jika ditinjau dari segi fisiologi tumbuhan pemangkasan tersebut bukanlah hal yang baik. Pemangkasan tersebut dapat mengakibatkan tanaman tercekam (stress) karena reduksi jumlah dan ukuran daunnya dimana daun merupakan salah satu organ penting bagi tanaman untuk melangsungkan kehidupannya yaitu untuk melakukan fotosintesis (McMahon, 2007).

Gambar 1. Contoh Modifikasi Bentuk Tanaman Semak. Pada umumnya tanaman semak yang dipangkas dengan berbagai bentuk binatang adalah pangkas kuning. Pada gambar di atas tanaman memang terlihat lebih menarik, tetapi hal tersebut tidak baik bagi pertumbuhan tanaman itu sendiri (Raja, 2009).

The Outdoor Living Area
Living area disebut juga sebagai lingkungan pribadi (private area) dimana cara mendesainnya sangat berbeda dengan desain public area. Contoh dari area ini adalah taman pribadi atau halaman belakang rumah. Perancangan private area ini dititik beratkan pada kegiatan keluarga serta minat berkebun suatu keluarga. Misalnya jika keluarga pemilik rumah menyukai olahraga maka halaman belakang rumah cukup ditanami rerumputan serta beberapa pohon peneduh di salah satu tepinya sehingga halaman terkesan luas sedangkan jika suatu keluarga memiliki hobi berkebun maka halaman hendaknya dijadikan kebun buah, bunga, atau taman obat keluarga.
Beberapa elemen penting untuk mendesain halaman pribadi adalah
·        Pagar pembatas dimana pagar dapat dibuat dari material batuan ataupun dari tanaman merambat sehingga memiliki fungsi ganda yaitu sebagai pembatas dan menghijaukan lingkungan. Selain itu, pagar dapat pula dibuat dengan menggunakan kayu dengan atau tanpa ukiran. Adanya ukiran menampakkan kesan mewah sedangkan pagar kayu polos dengan motif alami (lingkar pohon) menunjukkan kesan minimalis pada suatu bangunan. Pada umumnya pembatas ini merupakan kontrol dari suatu desain landscape dimana dengan adanya kontrol didapatkan keseimbangan simetris (formal) dan keseimbangan asimetris (informal).
·        Tanah lapang yang dapat dimodifikasi sebagai jalan setapak
·        Berbagai jenis tumbuhan. Misalnya tanaman semak (bugenfil/Bougenvillea spectabilis), tanaman perennial (bunga sepatu/Hibiscus rosa-sinensis) serta tamanan undercover seperti rumput teki. Tanaman ini berfungsi untuk memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi pemilik rumah.
·        Asesoris taman, seperti air mancur, kolam, patung, bebatuan, atau lampu hias taman.
·        Alas/dasar/lantai area ini dapat menggunakan beton, bebatuan atau tanaman rumput
·        Beranda atau gazebo meupakan area transisi antara interior rumah dengan halaman pribadi dimana pada umumnya lantai beranda berasal dari kayu atau beton yang di setiap sudutnya diberi tanaman hias dalam pot. Beranda ataupun gazebo seringkali dibangun dekat dengan dapur dan digunakan pada saat acara-acara tertentu seperti barbeque keluarga.

Service Area
Area ini merupakan area yang berada di belakang outdoor living area atau di samping public area. Misalnya jika di sebuah pusat perbelanjaan, service area adalah tempat parkir kendaraan.  Jika dilihat sepintas tempat parkir memang sangat jarang diperhatikan oleh para pengunjung. Namun, mendesain tempat parkir yang baik tidaklah mudah. Karena selain memperhatikan keindahan ditinjau pula segi keamanan pengemudi atau pemilik kendaraan. Oleh karena itu, diperlukan desain yang unik untuk service area supaya lebih diperhatikan oleh masyarakat.

Desain lanskap ideal yang memenuhi fungsi dan estetika dengan pedoman prinsip desain mempertimbangkan hubungan ruang, unsur pembentuk ruang serta membangun struktur landscape disesuaikan dengan karakter ruang yang ingin diwujudkan agar dapat memenuhi kepuasan manusia sebagai pengguna dan kelestarian lingkungan yang lebih berkualitas.


 Daftar Pustaka

Anonim. 2010. Design of Landscape. http://bestlandscaping-and-gardening.com. Diakses pada tanggal 8 November 2010 Pukul 11.25 WIB.
McMahon, Margaret, et. all. 2007. Hartmann’s Plant Science-Growth, Development, and Utilization of Cultivated Plants. Pearson Prentice Hall : New Jersey.
Raja. 2009. About Landscape Gardening. http://palemraja.com. Diakses pada tanggal 10 November 2010 Pukul 11.00 WIB.









Mengenal Resin Dan Lateks

Definisi Umum Resin
Resin adalah cairan getah lengket yang dipanen dari beberapa jenis pohon hutan. Spesimen resin yang ditemukan di situs-situs prasejarah merupakan bukti bahwa kegiatan pengumpulan hasil hutan sudah sejak lama dilakukan. Hutan-hutan alam Indonesia menghasilkan berbagai jenis resin. Terpentin (resin Pinus) dan kopal (resin Agathis) pernah menjadi resin bernilai ekonomi yang diperdagangkan dari Indonesia sebelum Perang Dunia II. Pada awalnya masyarakat mengetahui bahwa resin dihasilkan oleh tanaman gymnospermae, tetapi saat ini banyak tanaman angiospermae yang dapat digunakan sebagai penghasil resin. Contohnya adalah jagung (Zea mays) dan gaharu (Aquilaria malaccensis).
Richana (2007) menyebutkan bahwa tongkol jagung banyak sekali mengandung senyawa xylan yang merupakan bahan baku industry furfural dan gula. Sebagai bahan baku industri, xilan dapat dimanfaatkan sebagai campuran bahan pembuatan nilon dan resin. Hidrolisis xilan menghasilkan furfural yang dapat digunakan sebagai bahan pelarut industri minyak bumi, pelarut reaktif untuk resin fenol, disinfektan serta sebagai bahan awal untuk memproduksi berbagai bahan kimia dan polimer lainnya (Mansilla et al., 1998). Sedangkan pada tanaman gaharu resin berupa fitoaleksin yang berwarna coklat dengan aroma yang khas sehingga resin dari tanaman ini lebih sering digunakan sebagai bahan baku minyak wangi.
Pada umumnya resin digunakan sebagai obat tradisional, astringent dan detergen yang diberikan pada penderita diare dan disentri. Resin juga digunakan sebagai salep untuk penyakit kulit dan menyembuhkan gangguan pendengaran, kerusakan gigi, sakit mata, bisul dan luka (Appanah dan Turnbull 1998).

Damar
Damar adalah istilah yang umum digunakan di Indonesia untuk menamakan resin dari pohon-pohon yang termasuk suku Dipterocarpaceae dan beberapa suku pohon hutan lainnya. Sekitar 115 spesies, yang termasuk anggota (tujuh dari sepuluh) marga Dipterocarpacea menghasilkan damar. Pohon-pohon tersebut tumbuh dominan di hutan dataran rendah Asia Tenggara, karena itu damar merupakan jenis resin yang lazim dikenal di Indonesia bagian barat. Biasanya, damar dianggap sebagai resin yang bermutu rendah dibanding kopal atau terpentin (Abang, 2009).
Ada dua macam damar yang dikenal umum, dengan kualitas yang jauh berbeda. Pertama adalah damar batu, yaitu damar bermutu rendah berwarna coklat kehitaman yang keluar dengan sendirinya dari pohon yang terluka. Gumpalan-gumpalan besar yang jatuh dari kulit pohon dapat dikumpulkan dengan menggali tanah di sekeliling pohon. Di seputar pohon-pohon penghasil yang tua biasanya terdapat banyak sekali damar batu. Jenis kedua adalah damar mata kucing; yaitu damar yang bening atau kekuningan yang bermutu tinggi, sebanding dengan kopal, yang dipanen dengan cara melukai kulit pohon (Simpson, 2001). Sekitar 40 spesies dari genus Shorea
dan Hopea menghasilkan damar mata kucing, di antaranya yang terbaik adalah Shorea javanica dan Hopea dryobalanoides.
Sejak tiga ribu tahun yang lalu, damar telah memasuki jalur perdagangan jarak pendek di Asia Tenggara. Damar mungkin juga sudah menjadi produk dagang jarak jauh pertama yang berkembang antara Asia Tenggara dengan Cina di antara abad ke III dan ke V. Pada abad ke X damar kembali muncul dalam daftar produk-produk yang dijual ke Cina dari Asia Tenggara. Sedangkan ekspor damar ke Eropa dimulai pada tahun 1829 dan ke Amerika pada tahun 1832. Di daerah penghasilnya, damar digunakan sebagai bahan untuk penerangan dan mendempul perahu. Secara tradisional, damar juga diperdagangkan sebagai dupa, bahan pewarna, perekat dan obat. Pada pertengahan abad XIX lalu, seiring dengan berkembangnya industri pernis dan cat di Eropa dan Amerika yang kemudian disusul dengan Jepang dan Hong Kong, damar mulai memperoleh nilai ekonomi baru. Tetapi sejak tahun 1940-an, damar mendapat saingan berat dari resin sintetik hasil pengolahan minyak bumi (petrokimia) yang lebih disukai kalangan industri.
Dewasa ini Indonesia merupakan satu-satunya negara penghasil damar di dunia. Sasaran utama penjualan damar adalah pabrik-pabrik cat bermutu rendah di dalam negeri, sedangkan damar berkualitas tinggi diekspor terutama ke Singapura. Di Singapura, damar disortir dan diproses dan kemudian diekspor kembali sebagai dupa atau bahan baku untuk pabrik-pabrik cat di negara-negara industri. Pada tahun 1984 duapertiga dari produksi damar diserap oleh pasar lokal yakni pabrik-pabrik cat (60%), pembuatan dupa (24 %), dan industri batik tulis (16%). Diramalkan prospek pasar-pasar tersebut tingkatnya sedang sampai rendah terutama karena masuknya resin-resin petrokimia ke pabrik-pabrik cat lokal, dan juga karena tergesernya batik tulis oleh batik industri yang tidak membutuhkan damar. Pasar ekspor, yang menyerap sepertiga volume produksi, menuntut kualitas yang tinggi tetapi menawarkan prospek yang lebih baik. Secara teratur volume ekspor menunjukkan peningkatan, dari 1972 sampai 1983 tercatat kenaikan 250-400 ton per tahun.
Secara tradisional, damar digunakan sebagai bahan bakar obor penerang, penambal perahu, dan kerajinan tangan. Resin Dipterocarpaceae juga digunakan sebagai campuran resin aromatik yang berupa styrax benzoin (Stiracaceae) yang digunakan sebagai kemenyan dan obat-obatan. Damar secara luas digunakan sebagai kemenyan untuk upacara keagamaan dan sebagai desinfektan fumigant. Sejumlah besar damar juga dibutuhkan pada “Samagri” untuk kremasi jenazah. Damar dapat digunakan sebagai lilin pengeras pada industri semir, kertas karbon, pita mesin ketik, industri vernis, dan bantalan objek mikroskopik. Damar juga digunakan sebagai pelapis dinding dan atap, perekat kayu lapis dan asbes (Appanah dan Turnbull 1998).
Lebih jauh, damar juga digunakan pada berbagai kegiatan teknis seperti pembuatan cat, celupan batik, lilin pelayaran, tinta cetak, linoleum dan kosmetik. Triterpenes yang diisolasi dari damar telah digunakan sebagai media antivirus pada budidaya in vitro, untuk mengatasi penyakit Herpes simplex virus tipe I dan II (Poehland et al., 1996).

Asal-Asul Lateks
Pada tahun 1493 Michele de Cuneo melakukan pelayaran ekspedisi ke Benua Amerika yang dahulu dikenal sebagai “Benua Baru”. Dalam perjalanan ini ditemukan sejenis pohon yang mengandung getah. Pohon - pohon itu hidup secara liar di hutan pedalaman Amerika. Penduduk Amerika mengambil getah dari tanaman tersebut dengan cara menebangnya. Getah yang didapat kemudian dijadikan bola yang dapat dipantul - pantulkan. Bola ini disukai penduduk asli sebagai permainan. Penduduk Indian Amerika juga juga membuat alas kaki dan tempat air dari getah tersebut.
Tanaman yang dilukai batangnya ini diperkenalkan sebagai tanaman Hevea. Hasil laporan Ekspedisi Peru ditulis dalam buku oleh Frenhneau tahun 1749 dengan menyebut nama tersebut. Freshneau juga menyertakan gambar dari tanamana tersebut. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1751, De La Condomine membuat usulan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai tanamana Hevea ini. Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar, tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 meter. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi diatas (Tjitrosoepomo, 2005). Di beberapa kebun karet ada beberapa kecondongan arah tumbuh tanamanya agak miring kearah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks.

Perkembangan Tanaman Karet
Pengenalan pohon Hevea membuka langkah awal yang sangat pesat ke arah zaman penggunaan karet untuk berbagai keperluan. Sejak pertama kali ditemukan sebagai tanaman yang tumbuh secara liar sampai dijadikan tanaman perkebunan secara besar-besaran, karet memiliki sejarah yang cukup panjang. Apalagi setelah ditemukan beberapa cara pengolahan dan pembuatan barang dari bahan baku karet, maka ikut berkembang pula industri yang mengolah getah karet menjadi bahan berguna untuk kehidupan manusia.
Pemungutan hasil tanaman karet disebut penyadapan karet. Penyadapan merupakan salah satu kegiatan pokok dari pengusahaan tanaman karet. Tujuan dari penyadapan karet ini adalah membuka pembuluh lateks pada kulit pohon agar lateks cepat mengalir. Kecepatan aliran lateks akan berkurang apabila takaran cairan lateks pada kulit berkurang (McMahon, 2007).
Kulit karet dengan ketinggian 260 cm dari permukaan tanah merupakan bidang sadap petani karet untuk memperoleh pendapatan selama kurun waktu sekitar 30 tahun. Oleh sebab itu penyadapan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merisak kulit tersebut. Jika terjadi kesalahan dalam penyadapan, maka produksi karet akan berkurang. Untuk memperoleh hasil sadap yang baik, penyadapan harus mengikuti aturan tertentu agar diperoleh hasil yang tinggi, menguntungkan, serta berkesinambungan dengan tetap memperhatiakan faktor kesehatan tanaman (Setyamidjaja, 1993).
Lateks ialah cairan berwarna putih yang keluar dari pembuluh pohon karet bila dilukai. Pembuluh karet adalah suatu sel raksasa yang mempunyai banyak inti sel sehingga. Lateks ini juga disebut protoplasma. Lateks juga didefenisikan sebagai sistem fosfolipida yang terdispersi dalam serum. Lateks adalah disperse stabil (emulsi) polimer mikropartikel dalam media air. Lateks ditemukan di alam berupa cairan seperti susu dan terdapat pada 10% tumbuhan angiospermae. Lateks merupakan emulsi kompleks yang terdiri dari protein, alkaloid, karbohidrat, tannin, resin yang menggumpal karena terpapar udara (Agrawal, 2009). Bagi tumbuhan lateks berfungsi sebagai antimikroba, hama, ataupun penyakit (Agrawal, 2009). Beberapa penyakit yang kerap kali merusak tanaman karet adalah sebagai berikut :
A. Jamur Akar Putih (Rigidoporus lignosus)
Serangan jamur menyebabkan akar menjadi busuk dan apabila perakaran dibuka maka pada permukaan akar terdapat semacam benang-benang berwarna putih kekuningan dan pipih menyerupai akar rambut yang menempel kuat dan sulit dilepas.
B. Penyakit Bidang Sadap
1. Mouldy Rot yang disebabkan oleh jamur Ceratocystis fimbriata. Gejala serangan penyakit ini meliputi :
• Mula-mula tampak selaput tipis berwarna putih pada bidang sadap didekat alur sadap. Selaput ini berkembang membentuk lapisan seperti beludru berwarna kelabu sejajar dengan alur sadap.
• Apabila lapisan dikerok, tampak bintik-bintik berwarna coklat kehitaman.
• Serangan bisa meluas sampai ke kambium dan bagian kayu.
• Pada serangan berat bagian yang sakit membusuk berwarna hitam kecokelatan sehingga sangat mengganggu pemulihan kulit.
• Bekas serangan membentuk cekungan berwarna hitam seperti melilit sejajar alur sadap. Bekas bidang sadap bergelombang sehingga menyulitkan penyadapan berikutnya atau tidak bisa lagi di sadap.
2. Kering Alur Sadap (KAS) yang disebabkan oleh ketidakseimbangan fisiologis dan penyadapan yang berlebihan. Gejala serangan yang terlihat meliputi :
• Tanaman tampak sehat dan pertumbuhan tajuk lebih baik dibandingkan tanaman normal. Tidak keluar latek di sebagian alur sadap. Beberapa minggu kemudian keseluruhan alur sadap ini kering dan tidak me-ngeluarkan lateks.
• Lateks menjadi encer dan Kadar Karet Kering (K3) berkurang.
• Kekeringan menjalar sampai ke kaki gajah baru ke panel sebelahnya.
• Bagian yang kering akan berubah warnanya menjadi cokelat dan kadang-kadang terbentuk gum (blendok).
• Pada gejala lanjut seluruh panel / kulit bidang sadap kering dan pecah-pecah hingga mengelupas.
3. Jamur Upas
Penyebabnya adalah jamur Corticium salmonicolor. Gejala serangan penyakit ini adalah:
• Stadium sarang laba-laba. Pada permukaan kulit bagian pangkal atau atas percabangan tampak benang putih seperti sutera mirip sarang laba-laba.
• Stadium bongkol. Adanya bintil-bintil putih pada permukaan jaring laba-laba.
• Stadium kortisium. Jamur membentuk selimut yaitu kumpulan benangbenang jamur berwarna merah muda. Jamur telah masuk ke jaringan kayu.
• Stadium nekator. Jamur membentuk lapisan tebal berwarna hitam yang terdiri dari jaringan kulit yang membusuk dan kumpulan tetesan lateks yang berwarna coklat kehitaman meleleh di permukaan bagian terserang. Cabang atau ranting yang terserang akan membusuk dan mati serta mudah patah.
(Ingham, 1972).


Daftar Pustaka
  • Abang. 2009. Contoh Agroforesty. http://abang.wordpress.com. Diakses pada tanggal 10 November 2010 Pukul 19.45 WIB.
  • Agrawal AA, Konno K. 2009. Latex: A Model for Understanding Mechanisms, Ecology, and Evolution of Plant Defense Against Herbivory. Annu. Rev. Ecol. Evol. Syst. 40:311–31.
  • Appanah, S dan Turn bull, J.M. 1998. A Review of Dipterocarps: Taxonomy, Ecology, and Silviculture. Center for International Forest Research. Bogor.
  • Ingham, John. 1972. Phytoalexin And Other Natural Products as Factors in Plant Disease Resistance. The Botanical Review 38 (3): 343-424.
  • Mansilla, H.D., J. Baeza, S. Urzua, G. Maturana, J. Villasenor and N. Duran. 1998. Acid-Catalyzed Hydrolysis of Rice Hull: Evaluation of Furfural Production. J.Bioresource Technol. 66:189-193
  • McMahon, Margaret, et. all. 2007. Hartmann’s Plant Science-Growth, Development, and Utilization of Cultivated Plants. Pearson Prentice Hall : New Jersey.
  • Poehland, B.L., Carta, B. K., Francis, T. A., Hyland, L.J., Allaudeen, H.S. and Troupe, N. 1987. In-Vitro Antiviral Activity of Dammar Resin Triterpenoids. Jurnal of Natural Product 50: 706-713
  • Richana, Nur., dkk. 2007. Ekstraksi Xylan Dari Tongkol Jagung. Pascapanen. 4 (1): 38-43
  • Setyamidjaja, Djoehana. 1993. Budidaya dan Pengolahan Karet. Cetakan I. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.
  • Simpson, B.B and Molly, C.O.2001. Economic Botany Third edition, Plants in our World. McGraw-Hill International: Boston.
  • Tjitrosoepomo,Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan.UGM Press: Yogyakarta.