Pages

Sunday, November 06, 2011

Resume Gymnospermae


Gymnospermae merupakan kelompok tumbuh-tumbuhan yang bakal bijinya (ovul) tidak dilindungi oleh daun buah (karena itulah disebut pula sebagai tumbuhan berbiji terbuka).

Ciri-Ciri Umum Tumbuhan Gymnospermae
a.       Strobilus tersusun spiral pada axis stobili
b.       Bersifat heterospre
c.       Habitus berupa pohon/semak/perdu
d.       Gametofit bersifat endosporik
e.       Penyerbukan terjadi secara anemogami
f.        Belum memiliki perhiasan bunga
g.       Pada peristiwa penyerbukan, serbuk sari jatuh pada bakal biji
h.       Tipe berkas pengangkutan pada batang adalah kolateral terbuka
i.         Memiliki buluh resin (kecuali pada kelompok Gnetinae)
j.         Berdaun tunggal dan jarang berdaun lebar

Secara keseluruhan Gymnospermae terdiri atas 7 kelas (classis), yaitu:

1.       Pteridospermae
Ciri-ciri umum: 
·         Daunnya menyerupai tumbuhan paku (Pteridophyta)
·         Batangnya kecil dan tumbuh tegak
·         Tajuk pohon berbentuk kipas
·         Terdiri atas dua suku (familia), yaitu Lyginopteridaceae dan Medullosaceae
Contoh Spesies: Lyginopteris oldhamia, Medullosa sp.

2.       Bennettitinae
Ciri-ciri umum:
·         Batang pendek membentuk umbi
·         Daun menyirip
·         Salah satu kelompok tumbuhan yang telah punah
·         Bersifat monoesis
Contoh Spesies: Bennettita sp.

3.       Cordaitinae
Ciri-ciri umum:
·         Habitus berupa pohon tinggi
·         Batang bercabang
·         Daun tunggal berbentuk lanset
·         Tulang daun sejajar
·         Bersifat Dioesis
Contoh Spesies: Cordaites laevis, Cordaianthus pseudofluitans

4.       Ginkyoinae
Ciri-ciri umum:
·         Pohonnya bertunas panjang dan pendek
·         Helaian daun berbentuk kipas atau pasak
·         Tulang daun bercabang-cabang menggarpu
·         Bersifat dioesis
Contoh Spesies: Ginkyo biloba

5.       Gnetinae
Ciri-ciri umum:
·         Habitus berupa pohon
·         Batangnya bercabang-cabang
·         Tidak memiliki buluh resin
·         Berdaun tunggal dan berhadapan
·         Bersifat dioesis
Contoh Spesies: Gnetum gnemon, Ephedra altissima, Gnetum indicum, Welwitschia mirabilis
6.       Cycadinae
Ciri-ciri umum:
·         Habitus menyerupai tumbuhan palm
·         Berbatang pendek dan tidak bercabang
·         Akarnya tunggang berumbi (khas Cycadinae)
·         Bersifat Dioesis
Contoh Spesies: Dioon edule, Zamia floridana, Cycas revoluta, Cycas rumphii
7.       Coniferae (Coniferinae)
Ciri-ciri umum:
·         Berupa pohon tinggi
·         Tajuk pohon berbentuk kerucut (lancip)
·         Daunnya berbentuk jarum atau sisik
·         Beberapa jenis berumah satu atau monoesis (golongan Taxales, Araucariales) dan jenis lainnya berumah dua atau dioesis (golongan Pinales)
Contoh Spesies: Pinus merkusii, Abies alba, Thuja occidentalis, Pinus silvestris, Podocarpus imbricata



Perbandingan Antara Gymnospermae & Angiospermae
No
Gymnospermae
Angiospermae
1
Habitus berupa perdu, semak, atau pohon
Habitus berupa terna, perdu, semak, atau pohon
2
Ovul di luar bakal buah
Ovul di dalam bakal buah (ovarium)
3
Sistem perakaran tunggang
Sistem perakaran tunggang dan serabut
4
Penyerbukan bersifat anemogami
Penyerbukan bersifat hidrogami, anemogami, autogami, zoogami
5
Saat penyerbukan serbuk sari jatuh ke bakal buah
Saat penyerbukan serbuk sari jatuh ke bakal biji
6
Berkas pembuluh adalah kolateral terbuka
Berkas pebuluh adalah kolateral tertutup
7
Jarak antara penyerbukan dengan pembuahan relatif lama
Jarak antara penyerbukan dengan pembuahan relatif cepa
8
Biji memiliki lebih dari 2 daun lembaga
Biji memiliki 2 atau 1 daun lembaga
9
Kulit biji memiliki 3 lapisan
Kulit biji memiliki 2 lapisan

Contoh Taksonomi Beberapa Jenis Gymnospermae
Regnum      : Plantae
Divisio        : Spermatophyta
Sub Divisio : Gymnospermae
Classis       : Gnetinae
Ordo           : Gnetales
Familia        : Gnetaceae
Genus         : Gnetum
Spesies      : Gnetum gnemon

Regnum      : Plantae
Divisio        : Spermatophyta
Sub Divisio : Gymnospermae
Classis       : Coniferae
Ordo           : Pinales
Familia        : Pinaceae
Genus         : Pinus
Spesies      : Pinus merkusii

Regnum      : Plantae
Divisio        : Spermatophyta
Sub Divisio : Gymnospermae
Classis       : Cycadinae
Ordo           : Cycadales
Familia        : Cycadaceae
Genus         : Cycas
Spesies      : Cycas revoluta

Wednesday, September 21, 2011

Taksonomi Tumbuhan

Secara umum, urutan takson dari suatu tumbuhan dimulai dari Regnum, divisio, classis, ordo, familia, genus, dan spesies. 
Regnum merupakan bahasa latin dari suatu Kerajaan (dunia) tumbuhan dimana suatu makhluk hidup yang dimasukkan ke dalam dunia ini harus memiliki ciri; memiliki dinding sel, berklorofil, serta bersifat autotrof.
Di muka bumi, ada empat divisio yang mengelompokkan suatu tumbuhan yaitu Bryophyta, Pterydophyta, Gymnospermae, dan Spermatophyta dimana keempatnya dibedakan kembali atas kelas-kelasnya masing-masing. 
Divisio Bryophyta yang merupakan tumbuhan lumut hanya terdiri dari tiga kelas, yaitu Musci, Hepaticae, dan Anthoceros. Sedangkan Pterydophyta terdiri atas empat kelas yaitu Psilopitynae, Lycopodinae, Equisetiinae, serta Filicinae. Sementara Gymnospermae memiliki tujuh kelas; yaitu Pterydospermae, Cycadinae, Bennetinae, Cordaitinae, Coniferiinae, Gnetinae, dan Ginkyoinae. Divisio yang terakhir, Spermatophyta terdiri atas dua kelas yaitu Dicotyledoneae dan Monocotyledoneae dimana keduanya memiliki spesies yang paling banyak di jumpai di seluruh permukaan bumi.

Tuesday, September 20, 2011

Akar

Akar merupakan salah satu organ vegetatif, baik pada tumbuhan tingkat tinggi maupun tumbuhan tingkat rendah. Pada sebagian besar tumbuhan tingkat tinggi, akar merupakan organ yang terdapat di dalam tanah dimana fungsinya adalah menyerap unsur hara serta mineral-mineral tanah dan menyokong keseluruhan tubuh suatu tumbuhan. Selain itu, akar juga berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan cadangan makanan dimana contohnya dapat dilihat pada jenis wortel (Daucus carota) atau kentang (Solanum tuberrosum).  

Organisasi Ujung Akar
            Meristem ujung akar membentuk tiga daerah meristematik yaitu protoderm, prokambium, serta meristem bawah. Protoderm akan berkembang menjadi epidermis, sedangkan prokambium akan membentuk stele, dan meristem bawah berkembang menjadi korteks.
Pada perkembangan selanjutnya, sel-sel protoderm memanjang dan membentuk vakuola yang letaknya tidak jauh dari ujung akar. Perpanjangan protoderm ini akan mengalami pertumbuhan ke arah luar dimana strukturnya dikenal sebagai rambut akar. Rambut-rambut akar inilah yang berfungsi melakukan penyerapan air dan mineral di dalam tanah
Jika dibuat penampang melintang akar yang diamati secara mikroskopik, makan akan terlihat susunan anatomi sebagai berikut:
  1. Epidermis yang merupakan lapisan terluar
  2. Korteks, yaitu daerah yang terlihat melebar , berdinding tipis, dan tersusun atas jaringan parenkim.
  3. Endodermis, pada lapisan ini terdapat penebalan sel-sel parenkim pada dinding radialnya dimana penabalan tersebut dinamakan pita caspari
  4. Stele, adalah sekelompok jaringan pengangkut yang terdiri atas perisikel, xylem, dan floem.

Wednesday, August 24, 2011

Suksesi

Komunitas bersifat dinamis yang berarti terjadi perubahan secara terus-menerus pada suatu ekosistem. Perubahan tersebut akan mengalami perkembangan dimana perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan dikenal sebagai suksesi.
Suksesi terjadi akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas ataupun ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis).
 
Di alam terdapat dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.

1. Suksesi primer
Terjadi karena komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal terbentuk habitat baru. Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan lumpur yang baru di muara sungai, ataupun endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula diakibatkan oleh perbuatan manusia misalnya penambangan secara berlebih. 
Contoh suksesi primer (di Indonesia): suksesi di Gunung Krakatau. Di daerah bekas letusan gunung Krakatau mula-mula muncul pioner berupa lumut kerak serta tumbuhan lumut yang tahan terhadap penyinaran matahari dan kekeringan. Tumbuhan perintis tersebut mulai mengadakan pelapukan pada daerah permukaan lahan, sehingga terbentuk tanah sederhana. Ketika tumbuhan perintis mati, pengurai akan muncul dimana nantinya zat yang terbentuk karena aktivitas penguraian bercampur dengan hasil pelapukan lahan akan membentuk tanah yang lebih kompleks susunannya. Dengan adanya tanah ini, biji yang datang dari luar daerah dapat tumbuh dengan subur. Kemudian rumput yang tahan kekeringan tumbuh. Bersamaan dengan itu tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tanaman pioner dengan menaunginya. Kondisi demikian tidak menjadikan pioner subur tapi sebaliknya.
Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terus mengadakan pelapukan lahan. Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal. Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terbentuklah hutan. Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi sangat kecil sehingga tidak banyak mengubah ekosistem tersebut.

2. Suksesi Sekunder
Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, baik secara alami maupun buatan. Gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada. 
Contoh komunitas yang menimbulkan suksesi di Indonesia antara lain tegalan-tegalan, padang alang-alang, belukar bekas ladang, ataupun perkebunan yang tak terurus

Sunday, August 07, 2011

Sterilisasi Dan Inokulasi Eksplan Daun Anggrek


a. Sterilisasi Eksplan
Sterilisasi permukaan eksplan daun anggrek terdiri dari dua tahap yaitu sterilisasi tahap I yang dilakukan di ruang persiapan dan sterilisasi tahap II yang dilakukan di laminair air flow (LAF). Pada sterilisasi tahap I, daun anggrek diambil dari greenhouse dan dicuci dengan air mengalir selama beberapa menit, setelah itu dilakukan sterilisasi tahap II ,eksplan daun muda anggrek  dicelupkan pada ethanol 70% selama 1 menit kemudian dicuci dengan aquades steril, selanjutnya eksplan disterilkan dalam sodium hypochlorit konsentrasi 10% selama 5 menit kemudian disterilkan dalam konsentrasi 5% selama 10 menit, lalu dicuci dengan aquades steril secara bertingkat sebanyak 3 sampai 4 kali. Selanjutnya eksplan diambil dengan pinset dan ditiriskan pada kertas saring steril (Hendaryono, 1994).
b. Inokulasi Eksplan
Eksplan dipotong dipotong dengan ukuran ± 1cm2 dengan ketebalan ± 1mm. Daun diiris melintang menggunakan scalpel tajam dan steril. Media dibuka penutupnya, mulut botol media diarahkan pada api bunsen lalu eksplan ditanam dipermukaan media sebanyak 1 eksplan. Eksplan ditanam dengan posisi bagian perlukaan kontak dengan medium. Botol media ditutup menggunakan alumunium foil dan plastik dan diikat dengan karet. Media yang berisi eksplan diinkubasi di rak kultur dan diberi penyinaran 16 jam photoperiod dibawah suhu 25±1oC (Park et al, 2002).
Setelah eksplan diinokulasikan ke dalam botol kultur, botol ditutup rapat dan diberi label yaitu tanggal dilakukan inokulasi, setelah itu dilakukan inkubasi dan diamati perkembangan plb sesuai waktu penelitian.